Jumat, 30 Desember 2011

Tanda Tangan


DULU, ketika masih sekolah di Aliyah, secara berkala sekolah kami sering tampil live di saluran RRI Jember. Untuk unjuk kemampuan olah vokal dan pembacaan puisi. Saya ingat, saat itu teman-teman saya suka menyanyikan lagunya Ratih Purwasih, Gelas-gelas Kaca-nya Nia Daniaty, dan lagu-lagu lain yang masa itu lagi top-topnya. Misalnya lagu-lagu ciptaan Obbie Mesakh, Rinto Harahap atau Wahyu OS. Banyak dari lagu-lagu itu yang bernuansa sendu. Yang agak rancak, yang seingat saya pernah ditampilkan secara duet oleh teman saya adalah Kalau Bulan Bisa Ngomong-nya Doel Sumbang-Nini Karlina.

Saya kebagian apa? Nyanyi? Ah, mana bisa saya menyanyi. Wong bersin saja suara saya sengau... Hehehe....
Saya, sering diminta sebagai MC saja. Walau belakang hari, saya jadi tahu diri; 'memangnya saya saja yang bisa bercuap-cuap?'. Saya ingin ada teman lain yang tampil. Dan pihak pengasuh vokal grup di sekolah kami menyetujui. Tapi ada syaratnya; “Naskahnya kamu yang buat,” katanya.

Okelah. Setelah beberapa kali tampil hanya puisi (yang kalau dibaca lagi sekarang saya malu) yang dibacakan teman lain, sekarang giliran saya juga menulis naskah untuk sang pembawa acara.


Suatu hari ditempat parkir, ketika saya ikutan keluar dari mobil yang membawa kami ke studio RRI, Joko Sambang, sang gitaris andalan sekolah kami mendekati saya, “Kamu jangan pura-pura,” katanya.

“Pura-pura apa, mBang?” jawab saya.

“Pegang gitar ini!” ia menyodorkan gitar akustik merk Yamaha kepada saya. “Mainkan!”

“Aku gak bisa main gitar, mBang...”

“Jangan bohong, dari bentuk jari tanganmu aku tahu, kamu bisa main gitar...”

Lhadalah, baru kali itu saya mendengar seorang bisa mengetahui bisa-tidaknya orang main gitar dilihat dari tangannya. Tetapi, tentu saja si Joko Sambang sangat keliru. Ya, saya tak bisa main gitar. Sampai sekarang!

Tetapi, tanpa berguru kepadanya, belakangan saya bisa menebak sebuah tanda-tanda dari tangan seseorang. Bukan tentang gitar. Tetapi tangan tukang becak.
Tentu sampeyan juga tahu, bila seorang tukang becak melambaikan tangan kekanan (dengan tanpa menoleh kebelakang) bersiaplah; abang becak itu akan belok kanan. Berhati-hatilah 'melawan' kendaraan (dan pengemudi) model ini, yang sering dengan gagah berani melawan arus dipadatnya arus lalu lintas....

Rabu, 28 Desember 2011

Pengemis Naik Kelas

BATAS antara meminta-minta dan mengamen, saya perhatikan, makin tipis saja. Seringkali, pengamen yang mampir kerumah saya saya lihat tidak menyanyi. Ia hanya genjrang-genjreng gitar dengan nada ngawur. Alat itu ia bunyikan sekadar memberitahu pemilik rumah akan kedatangannya. Lalu, ketika uang receh telah diterimanya, ia akan melanjutkan pindah ke rumah sebelah. Juga dengan modus yang sama.

Ada lagi sejenis pengamen tapi menakutkan; ngamen jaranan. Dengan dandanan khas jaranan (celana kombor hitam, kaos loreng putih-merah, ikat kepala, bedak kemerahan). Tentu ia tak membawa gitar untuk mengiringi atraksinya. Ia membawa tape yang memutar gamelan rancak kesenian khas Jawa ini. Satu lagi; sambil menari-nari, sesekali ia memcambukkan pecut. Dan cambukan itu makin keras saja manakala si pemilik rumah tak segera keluar untuk memberinya uang kecil. (Ngamen kok neror...)

Hari Minggu adalah hari yang padat akan kunjungan pengamen. Mereka rupanya tahu, hari itu rumah-rumah yang dihari lain selalu tutup (karena ditinggal pergi penghuninya untuk kerja), banyak yang berpenghuni. Artinya lagi, income bagi para pengamen berpeluang untuk meningkat, ketimbang hari kerja.

Tidak hanya pengamen, hari Minggu adalah hari kunjungan para pengemis. Saking seringnya, saya sampai hapal wajah para pengemis itu. Salah satunya seorang laki-laki seusia kakak saya. Melihat fisiknya, saya kira ia sehat jiwa raga. Lebih kekar dari tukang becak yang mangkal dipertigaan pasar Rungkut. Tetapi kenapa mengemis? Tak perlulah saya tanyakan hal ini kepadanya. Sampeyan tentu pasti tahu.

Belakangan, saya juga kedatangan lelaki itu lagi. Untuk mengemis? Ah, tidak lagi sekarang. Rupanya ia telah 'naik kelas'. Ia datang tidak dengan baju lusuh dan celana kumal. Juga tidak menyandang tas compang-camping. Ia tampil lebih 'necis'; celana panjang warna hitam, baju putih lengan panjang, songkok putih ala haji, dan map hijau dengan lembaran yayasan 'anu' didalamnya lengkap dengan surat permohonan sumbangan.*****

Jumat, 23 Desember 2011

Daun yang Menipu


...di alam nyata
apa terjadi
buah semangka
berdaun sirih...”

PERCAYALAH, itu hanya ada dalam syair lagu. Tepatnya lagi, lagunya Broery Pesolima

Dialam nyata yang sesungguhnya, sering saya dapati daun penipu. Lihat dan perhatikan lebih jeli; dilapak-lapak pedagang buah dipinggir jalan, untuk memberi kesan buah nan segar, seringkali para pedagang buah menyelipkan dedaunan disela ikatan buah rambutan yang dipajang. Yakinlah, itu bukan daun rambutan sesungguhnya. Karena, mana ada orang membawa rambutan dari kampung sekalian sak daun-daunnya.

Ya, melihat bentuknya, saya curigai itu adalah daun pohon sono yang memang banyak ditanam Dinas Kebersihan dan Pertamanan di pinggir-pinggir jalan, berdekatan dengan lokasi para pedagang buah mangkal.

Masih tentang daun yang kadang menipu.
Begini; dikampung saya, ketika ada tetangga yang hendak menggelar selamatan, salah satu indikasinya adalah pagi ia akan mengambil daun-daun pisang. Daun yang masih menyatu dengan pelepahnya itu, kemudian disandarkan didinding rumah dihadapkan ke sinar matahari. Tujuannya agar daun itu layu. Sehingga ketika digunakan untuk membungkus 'berkat', daun itu tidak gampang sobek.

Melihat itu, biasanya para ibu tetangga kanan kiri sudah ambil langkah antisipasi. Kalau tidak membatalkan menanak nasi untuk dikonsumsi disore hari, paling tidak akan mengurasi porsinya. Alasannya jelas, bila ada tetangga selamatan, sebungkus 'nasi berkat'-nya bisa untuk mengenyangkan perut seisi rumah berpenghuni empat sampai lima jiwa.

Itu kalau beruntung. Kalau tidak (misalnya ternyata si tetangga mengambil daun pisang untuk dijual kepasar besok pagi), bagi yang sudah kadung tidak memasak, bukan tidak mungkin si ibu bakalan diprotes orang serumah.

Satu lagi.
Sampeyan tahu lemper? Iya, jajanan tradisional berbahan ketan yang dibentuk sedemikian rupa, dengan dibubuhi irisan daging atau abon dibagian tengahnya. Si lemper ini mempunyai ciri yang khas. Bungkusnya, yang dari daun pisang, selalu rangkap dua. Bagian dalam, adalah daun pisang agak tua, yang warnanya menjadi lebih tua karena ikutan ditanak dalam proses pembuatannya. Bungkus luar, tetap memakai daun pisang, tetapi dipilih yang daun muda. Sehingga warnanya cenderung lebih cerah; hijau kekuningan. Itu dulu. Sekarang, sekalipun bagian dalam tetap sama, bungkus luar adalah imitasi belaka; bukan daun pisang tulen. Sekalipun warnanya dibuat sepersis mungkin, ia adalah plastik semata.

Bagaimana, masih tertarik dengan daun muda?*****

Rabu, 21 Desember 2011

Mantera Madura

SEKALIPUN bukan bernama Karib, saya punya sahabat karib. Anto namanya. Lengkapnya; Anto Baruna. Sebuah nama yang tentu tidak mencerminkan bahwa ia berasal dari pedalaman Trenggalek sana.

Sebagai sahabat, sering saya pergi kemana-mana bersama dia. Suatu Minggu, dia mengajak saya pergi keluar pulau. Sekadar tamasya. Tujuannya, sekalipun luar pulau, tidak jauh-jauh amat; Madura. Kala itu Suramadu belum dibangun.

Ke Tanjung Perak kami naik bus kota. Menyeberang ke pulau garam kami ikut kapal Potre Koneng. Sesampainya di Kamal, blank. Tak tahu tujuan. Tetapi saya lihat ia lega. Hasrat menginjakkan kaki di Madura tunai sudah. Tetapi lalu ngapain?

Itu dia. Untuk beberapa saat kami hanya berjalan-jalan putar-putar pelabuhan Kamal. Lalu langkah kami menuju para pedagang didekat pelabuhan. Salak mengunung-gunung dilapak setiap pedagang buah. Rupanya saat itu lagi musim salak di Madura. Disitu tentu juga ada penjual souvenir khas Madura; odeng, miniatur celurit, juga pecut.

Kami tak membeli, baik salak maupun souvenir.
Tetapi sebagai wisatawan, kami terus saja berjalan-jalan. Dan, tibalah kami ke (kalau tidak salah ingat) terminal angkot di Kamal. Segera saja kami menjadi rebutan para makelar angkot. Saya, yang sedikit bisa bahasa Madura, tentu mudah saja menolak tawaran makelar yang terus saja memaksa (paling tidak) kami menjawab kemana tujuannya. Tetapi tidak demikian dengan si Anto. Ia tampak kewalahan menghadapi para makelar yang sebagian besar masih menggunakan bahasa Madura itu.

"Kamu kok tidak dipaksa sih. Kulihat kamu hanya mengucap dua kata, para makelar itu sudah pergi. Apa yang kamu ucapkan?" tanay Anto.

Tentu saja saya ketawa. "Ada manteranya, To," kata saya.

"Ajarin dong," pintanya memelas.

Maka, karena ini sebuah mantera, saya larang ia menuliskannya. Tak ada mantera yang ditulis. Harus dihapal diluar kepala. Dan, mantera Madura ini toh hanya dua kata. Tak sulitlah untuk menghapalnya. Bunyinya; "Bunten semak," kata saya kepada Anto.

Beres.
Saya lihat, setelah ia merasa hapal dengan manteranya, ia dengan pede meninggalkan saya yang minum es teh disebuah kedai di terminal Kamal itu. Saya lihat, ketika ia didatangi makelar, mulutnya komat-kamit merapal manteranya. Dan, ampuh. Makelar itu segera menjauh. Begitu berulang-ulang. Sampai kemudian, karena kekagumannya akan keampuhan mantera yang saya ajarkan, ia bertanya apa maknanya.

"Makna apa?" saya balik nanya.

"Ya makna 'bunten semak' itu. Kok ampuh amat," kata Anto.

Saya menyeringai. Sampeyan  tahu, yang saya ajarkan itu sebenarnya bukan mantera. Ia adalah bahasa Madura. Sebagai kalimat penolak ajakan para makelar. Artinya, lebih kurang, "Tidak, dekat (saja kok tujuan saya)."


Selasa, 06 Desember 2011

Tiada Bulan tanpa Selamatan


BULAN Suro (Asy-syura), ketika saya kecil di kampung dulu, datangnya selalu ditandai dengan bubur beras putih. Sesama tetangga saling berhantar sepiring bubur yang diatasnya ditaburi telur dadar , tempe-tahu goreng yang semua diiris tipis-tipis. Taburan itu juga dilengkapi beberapa butir kacang tanah digoreng.
Hanya sepiring? Bagaimana cara kami membagi memakannya padahal saya dirumah ada berenam? Oh, jangan khawatir. Semua akan kebagian. Benar memang hanya sepiring, tetapi semua tetangga, dihari itu, saling menghantar. Jadilah ia berpiring-piring.

Dikampung saya (mungkin juga dikampung sampeyan), banyak sekali bulan yang datangnya sering diselameti. Nyaris tiada bulan tanpa selamatan. Selain Suro yang saya ceritakan diatas, bulan lain yang juga ditandai dengan bubur adalah bulan Sapar (Syafar). Walaupun sesama bubur, di bulan Sapar bentuk dan bahannya berbeda. Kalau bubur Suro warna lebih dominan putih (warna asli beras), bubur Sapar berwarna merah. Tentu bukan semerah darah. Karena sekalipun merah, sebenarnya ia lebih cenderung ke coklat. Ya, warna itu didapat dari gula Jawa sebagai pemanis.

Selain warna, beras yang digunakan adalah jenis ketan. Lebih beda lagi, bubur Sapar ini berbentuk bulatan-bulatan kecil. Menthul-menthul. Bubur ini  juga disebut jenang Sapar. Nama lainnya lagi adalah; jenang grendul.

Tetapi selamatan paling meriah tentu adalah acara Mulutan. Begitulah lidah kami menyebutnya. Ia digelar serentak ditanggal 12 Robiul Awwal. Ya, Mulutan ini memang untuk ‘memeriahkan’ peringatan maulid nabi SAW.

Ia meriah bukan karena berbentuk tumpeng dan bukan bubur. Lebih dari itu, tumpeng itu dihias sedemikian rupa dengan aneka bendera kecil warna-warni yang ditancap diseputar ‘encek’ (nampan dari pelepah pisang yang dialasi anyaman bambu) yang berisi tumpeng lengkap dengan ayam panggang dan aneka buah.

Begitulah, kemiskinan yang saban hari diakrabi, tidak lantas kami merasa makin miskin karena sering menggelar selamatan. Ada saja rejeki sebagai biaya membeli beberapa butir telur atau seekor ayam plus beras putih. Walau nasi jagung, sambal terasi dipadu dengan ‘gangan mrong-gih’ (sayur daun kelor) sebagai menu nornal kami.

Menulis catatan ini, bukan berarti saya hendak mengumbar kemiskinan kami. Tidak. Saya hanya rindu sepiring bubur Suro.
Sekarang, di Surabaya ini, dan masih dibulan Suro ini, saya tunggu kiriman sepiring bubur Suro dari sampeyan.

Salam.

Menulislah!

”…Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah.”

Pramoedya Ananta Toer

Senin, 05 Desember 2011

Politisi, Ulama dan Wartawan

"TAHUKAH kalian, apa yang terjadi dengan politisi, ulama dan wartawan? Politisi tidak mau tahu kebenaran. Ulama hanya tahu separoh kebohongan. Dan wartawan tidak tahu beda antara keduanya!"
 

-- Dr. Mustafa Ceric, Grand Mufti Bosnia-Herzegovina

Minggu, 04 Desember 2011

Musim Bencana

HALAMAN depan koran yang saya baca hari ini memampang peta. Peta bukan sembarang peta; peta bencana. Beginilah, musim hujan senantiasa datang berombongan bersama musim-musim yang lain. Musim banjir, musim angin putting beliung, musim pohon dan bangunan roboh dst, dsb.

Tetapi, sebencana-bencananya di negeri ini, bila belum ada lagunya Ebiet G Ade yang diputar berulang-ulang di semua stasiun televisi, itu artinya si bencana masih dalam taraf 'kecil'. Rumah roboh kok kecil? Kebanjiran kok kecil? Satu orang tewas kerobohan gedung madrasah di Pamekasan kok kecil?

Seperti sekolah, kesedihan pun ada kelasnya. Ada tingkatannya.Dan, apesnya, tingkatan itu tidak satu kata satu rasa oleh si korban dan si mengurusi bencana. Kelas bencana rutin yang ajeg datang saban tahun itu, turun karena kita pernah ditimpa bencana besar; tsunami Aceh!

Ya, sejak tsunami yang meluluh lantakkan bumi Serambi Mekkah itu, dengan jumlah korban jiwa begitu banyaknya, (yang untuk menguburkan para korbannya ditimbun 'begitu saja' memakai bolduzer,) membuat bencana lain yang datang belakangan. menjadi terkesan kecil. Ia selalu kalah telak oleh bencana Aceh.

Sebulan pasca tsunami Aceh itu, saya dapati seorang bulik (bibi) ipar saya membagi sarung, kaos, dan sabun mandi. Saya yang baru datang turut ditawarinya pula. Mula-mula, demi menghargai sebuah pemberian, saya mau saja sekalipun mutu kain sarung itu tak seberapa bagus. Tetapi, ketika saya tanya darimana mendapatkan sarung dan lain-lain itu, bulik saya menjawab begini; “Ini oleh-oleh dari paman suami saya yang bertugas mengantar bantuan untuk Aceh. Ia mengambil sebagian barang dari kapal yang turut diawakinya.”

Jawaban itu sungguh telah menghilangkan selera saya untuk turut mengambilnya. Saya malu. Saya hanya menyumbangkan pakaian bekas untuk mereka, kok ini malah mau ngambil barang baru yang seharusnya juga untuk mereka?

Sungguh, lagu Ebiet menemukan adegannya disitu, dalam kekalutan, masih banyak tangan, yang tega berbuat nista ho ho ho....

Jumat, 25 November 2011

Menjual Iba


SEKITAR tiga tahun yang lalu saya ditugaskan untuk mengantar calon penyewa ruko milik perusahaan tempat saya bekerja. Bersama seorang driver, saya semobil dengan dua ibu muda itu. Tentu saja saya tahu ‘kasta’. Sepanjang perjalanan yang tak seberapa jauh (dari HR Muhammad sampai jalan Diponegoro), saya lebih banyak diam.

Selain memang beda ‘kasta’, saya memang terbiasa untuk tidak ikut bicara bila seseorang yang belum saya kenal sedang asyik bicara dengan temannya. Kesempatan itu saya gunakan untuk belajar menjadi pendengar yang baik. Sekaligus ‘membaca’ keadaan, agar ketika saya kemudian harus ikut nimbrung, saya tahu yang akan saya katakan. Menurut saya ini penting. Karena, ketika kita tahu ‘isi kepala’ lawan bicara kita, kita bisa nyaman dan nyambung saat terlibat dalam percakapan.

Contohnya, tak mungkinlah saya bicara tentang  IT  ketika harus bicara dengan paman saya yang petani, misalnya. Berbicara dengan guru, tentu lebih gayeng  bila topik yang kita usung adalah tentang dunia pendidikan. Untuk kasus ini, Barack Obama termasuk jago. Ingat, ketika tahun lalu beliau hadir untuk kali pertama ke Indonesia, beliau selain mengucap ‘assalamualaikum’, juga memulai kata sambutannya dengan,” Pulang kampung nih...”

Heboh betul audience mendengar sepenggal kalimat itu. Artinya, menurut seorang penulis senior, Obama tahu tempat untuk ‘masuk’ lebih dalam. Ia bisa mengaum dikandang singa, atau mengembek dikandang kambing!

Ketika saya mulai harus ‘masuk’ satu-dua kata dalam percakapan dengan dua ibu muda itu, jalanan Surabaya lagi macet-macetnya. Lepas dari Mayjen Sungkono lebih lega. Masuk Adityawarman sampai Ciliwung lancar jaya. Tetapi harus berhenti karena traffict light menyala merah di ujung Ciliwung. Dari titik itu, ruko yang menjadi TKP yang kami tuju tinggal selangkah lagi.

Panasnya Surabaya sedang tidak saya rasakan karena mobil ini ber AC. Tetapi salah satu ibu itu malah membuka kaca,” Koran,” katanya sedikit berteriak.

Seorang ibu muda (yang ini penjual koran) menghampiri. Diterik siang itu, saya lihat, ia tidak hanya mendekap dagangan koran. Tetapi juga menggendong bayi.

Surya,” kata ibu muda dari dalam mobil.

Ibu muda penjual koran menjulurkan se-eksemplar ke kaca jendela mobil yang terbuka. “Seribu,” ucapnya.

Ketika selembar limaribuan telah diterima, lalu penjual koran yang sambil menggendong bayi itu sibuk hendak mencari uang kembalian disakunya,” Kembaliannya ambil saja untuk ibu...” kata ibu muda calon penyewa ruko.

Sungguh, ibu muda penjual koran itu setiap pagi masih saya lihat di ujung jalan Ciliwung. Tetapi bayi yang digendongnya tiga tahun lalu itu, sekarang sudah bisa berlarian. Berlarian? Iya. Dan itu ditrotoar yang bila kepleset sedikit saya bisa-bisa 'disambar' kendaraan yang lalu-lalang di jalanan. Tetapi, iseng angan saya ‘masuk’ lebih dalam. Begini; berjualan koran tentu lebih terhormat ketimbang mengemis. Dalam hal ini saya harap sampeyan setuju dengan saya. Tetapi, ketika sambil berjualan itu ia juga sedang ’menjual’ nelangsa bagaimana? Bisakah ini dibilang sebagai trik ‘mengemis’ yang lebih manis? Entahlah.

Dalam membeli koran, sering juga saya berlaku begitu. Saya memilih membeli kepada anak-anak ketimbang kepada penjual yang seusia dengan saya, misalnya. Sekalipun tidak saya ungkap, tentu sampeyan mengerti mengapa saya berlaku begitu. Ya, rasa iba kadang muncul begitu saja melihat bocah-bocah seusia anak saya harus berpanas-panas ria mencari uang dengan berdagang koran. Rasa iba saya itu tentu tak seberapa dibanding dengan yang dilakukan calon penyewa ruko yang saya ceritakan diatas. Karena saya hanya membeli dagangannya, dan masih meminta uang kembaliannya. Hehehe..., kebacut  ya.

Atas dasar yang sama, Kamis pagi 3 November yang lalu, saya membeli koran seribuan di depan kantor Telkom Kendangsari. Penjualnya bukan anak-anak. Tetapi sudah, saya kira, pantas sebagai ibu muda. Sekalipun tidak sambil menggendong bayi, rasa iba saya muncul melihat kondisi fisiknya. Wanita berkacamata yang berjualan diatas pembatas jalan itu kakinya cacat.

“Maaf, pak. Kembaliannya belum ada. Besok kalau bapak beli lagi saja ya....” katanya setelah menerima selembar uang duaribuan dari saya.

Tidak ada alasan untuk tidak mengiyakan alasannya. Tetapi dengan nakal pikiran saya menjatuhkan dua praduga; bersalah dan tidak bersalah. Praduga tak bersalahnya, bisa jadi saat itu ia memang sedang tidak ada uang kembalian. Lalu dengan jujur ia berkata begitu. Dan, praduga bersalahnya; ia sengaja berlaku begitu kepada siapapun pembelinya demi alasan iba. Bayangkan, jarang ada kan orang membeli koran dengan uang pas. Selalu ada kembalian. Praktik ini, saya nilai lebih tidak sopan ketimbang ketika kita dikasih kembalian permen ketika belanja di swalayan.
Tapi sudahlah. Dengan kondisi fisik begitu, dengan mau bekerja adalah tak salah bila kita saluti. Ya daripada mengemis.

Ingin membuktikan dua praduga saya terhadapnya, pagi tadi saya membeli lagi koran kepadanya. Ya, saya ingin membeli tidak dengan uang pas. Sekaligus saya tidak hendak menagih uang kembalian lebih setengah bulan yang lalu.

Surya, mbak,” kata saya.

Setelah menyerahkan korannya, dan saya bayar, ia merogoh saku tasnya. Menyodorkan uang kembalian. “Terima kasih, pak,” ucapnya.

“Sama-sama, mbak,” jawab saya sambil tersenyum. Senyum yang tak terlampu manis saya kira. Karena, pada saat bersamaan, saya sedang malu ditampar kecurigaan saya yang keliru. Betul, kondisi fisik ibu muda ini memang tidak sempurna. Ia cacat di kakinya. Tetapi sampeyan pasti dengan gamblang bisa menerawang; hatinya tidak cacat.

Salam.

Kamis, 24 November 2011

Ambon van Jombang (Dan Kisah Pencuri Nasi)

BEGITU sahabat saya yang satu ini mengirimi saya foto lama, langsung saja ingatan saya melayang-layang mengenang saat-saat bersamanya. Kalau mau semua ditulis tentulah akan sangat banyak. Tetapi kali ini, saya ingin menulis salah satu saja.

Seperti biasa, ketika itu, setelah sarapan di warung yang memakai sistem pasca bayar (maksudnya ngutang dulu untuk dibayar kemudian kalau sudah gajian), kami selalu membungkus satu lagi sebagai jatah makan siang. Karena, setelah bekerja, kami merasa malas jam duabelas siang harus turun ke warung untuk makan siang. Solusinya ya itu tadi, bawa nasi bungkus.

Hal itu pula yang dengan istiqomah dilakukan Suwaji, begitu nama sahabat saya yang asal Jombang, Jatim ini. Tetapi karena model rambut dan kulit yang hitam (ada manisnya sih, tetapi sedikit...) ia lebih beken dengan nama panggilan Ambon. Hal itu pulalah yang membuatnya enggan menyebut nama aslinya ketika diajak berkenalan dengan orang baru. Karena, ujung-ujungnya, kalau sudah akrab, tetap saja ia dipanggil Ambon. Sudahlah; apa arti sebuah nama, kata Shakespeare.

Untuk menyimpan nasi bungkus itu, biasanya kami taruh disembarang tempat. Intinya di unit mana kami bekerja, didekat situlah si nasi 'duduk manis'.

Pagi itu, setelah meletakkan nasi bungkusnya, si Ambon mulai menyiapkan alat-alat kerjanya. Bersiap melaksanakan tugas. Mengecat. Disaat itu, tiba-tiba muncul teman lain. Sutris namanya. Di tempat kerja ini ia termasuk rajin. Maksudnya rajin menjaili teman. Tetapi pagi itu rupanya ia sedang baik hati. Tidak seperti biasanya, ia membuka nasi bungkus didepan Ambon. Dan mengajaknya sarapan bareng.

Ambon, yang memang masih 'semego', ho-oh saja diajak makan sebungkus berdua. Hitung-hitung sebagai sarapan kedua. Karena, sebagai kuli bangunan seperti kami, untuk sekadar makan saja, memang harus matang hitungannya. Jangan sampai ketika gajian tiba, duit hanya habis untuk membayar hutang makan diwarung.

Lepas makan, Sutris dan Ambon bekerja seperti biasa. Hal yang tak biasa justru terjadi saat jam istirahat tiba. Disaat yang lain mengeluarkan nasi bungkusnya masing-masing, si Ambon malah masih sibuk mencari bekalnya. Yang ternyata telah raib dari tempat ia menyimpannya.

Melihat hal itu, si Sutris malah cengengesan. Dan, mulailah segala tuduhan dialamatkan kepadanya.

"Tris, kamu sembunyikan dimana nasiku?" tanya Ambon.

"Siapa juga yang menyembunyikan nasimu." bantah Sutris. "Wong nasi sudah dimakan kok dicari."

"Jadi?!"

"Iya, yang tadi kita makan bersama sebagai sarapan kedua itu lak nasimu..." celetuk Sutris.
KALAULAH gambar ini terlihat terlalu saling berjauhan, memang begitulah adanya. Walau tentu saja sebenarnya kami adalah sepasang sahabat kental dalam arti sesungguhnya. Gambar ini saya dapatkan via FB. Tak ingat saya kapan dan dimana foto itu dibuat. Termasuk siapa fotografernya. Tetapi dengan kaos biru itu, saya dan dia tentu masih dalam naungan PMD. (Sekalipun tak perlu saya sebut kepanjangannya, yakinlah itu bukan nama partai...)

Pacaran Kontrak


SEJAK saat ini kita pacaran, ya,” kata Melati (tentu bukan nama sebenarnya), teman sekelas saya.

Kalimat itu tentu bukan kalimat tanya. Ia tegas terucap sebagai kata perintah. Dan saya, mungkin lebih beruntung ketimbang kejatuhan durian runtuh!

Lebih lanjut Melati lalu bercerita; semalam pak AR (pakai inisial saja ya) bertandang kerumahnya. Bertamu untuk kunjungan yang sangat serius. Bukan sekadar kedatangan seorang guru yang ingin melihat muridnya malam itu sedang belajar apa tidak. Pak AR, guru IPA saya sejak di bangku SMP dulu, adalah seorang duda. Dan ketika di bangku SLTA ada salah satu kembang (baca: Melati) yang sedang mekar menyemerbakkan kecantikannya, tak perlu memakai teori Newton atau Archimides untuk mendekatinya. Kedekatan yang diharap lebih dari sekadar hubungan antara guru-murid.

Tetapi, entah dapat ide darimana, si Melati mampu meyakinkan orang tuanya bahwa ia telah punya pacar. Namanya Edi Winarno!

Maka, ketika pak AR mengutarakan maksud kedatangannya, dengan sopan ortu Melati meminta maaf. Bahwa, sebagai orang tua, sungguh jaman sekarang perkara jodoh telah berlaku hukum 'kebo nyusu gudel'. Artinya, apa kata yang akan nglakoni. Apa kata anak. Dan, masih ortu Melati yang bicara, “Melati sudah bilang ke saya. Kalau ia sudah punya pacar. Teman sekelas katanya.”

Bercerita begitu, Melati tak sempat menggambarkan bagaimana rona wajah pak AR. Malah, saya perhatikan ronanya, Melati menyuguhkan wajah lega dihadapan saya. Tetapi, “Kita pacaran sampai lulus saja ya. Asal aku bisa menghidar dari pak AR.”

Ada memang saya dengar istilah kawin kontrak. Tetapi kalau pacaran kontrak? Hanya berlangsung sesuai kesepakatan waktu. Dan itu hanya tak lebih dari setahun. Hanya sampai lulus. Lalu, seandainya dalam masa kontrak itu tumbuh kesungguhan bagaimana? Nah.


Tetapi jangan bayangkan pacaran (kontrak) saya itu sedemikian mesranya. Tidak. Lagian pacaran (sungguhan) jaman itu, jangankan pegang tangan, lihat pintu rumahnya saja sudah lega.

Tetapi kasus saya ini beda. Saya 'pacaran' hanya ketika disekolah saja. Agar pak AR yakin bahwa benar si Melati telah punya si Edi. Tak lebih dari itu. Kalaulah harus ada yang dilebihkan, adalah saya lebih sering ditraktir. Ini jelas, karena yang butuh adalah dia. Hehehe...

Menjalani sandiwara yang mengasyikkan itu, waktu setahun terasa cuma sebentar. Dan ketika malam perpisahan setelah kelulusan tiba, disaat teman-teman lain saling termehek-mehek  satu sama lain karena segera meninggalkan masa SLTA yang indah, saya lihat si Melati tersenyum manis sekali. Lebih manis dari senyum yang dalam setahun ini begitu saya akrabi. Sorot matanya berbinar.

Dalam film-film remaja, tentu adegan selanjutnya adalah saling berangkulan. Tetapi tentu kami tahu diri, bahwa hal itu tak mungkin kami lakukan. Dan, dengan intonasi kata yang saya tahu berbalut kesungguhan, Melati berucap,” Terima kasih, Ed. Terima kasih atas kebaikanmu selama ini. Dan sesuai janjiku, kita sejak saat ini harus putus.”

Saya lihat mata bening Melati. Saya lihat dalam-dalam. Dan baru berakhir ketika ia menyodorkan spidol. Beberapa saat saya diam. Sebelum meraih ujung jilbabnya, dan kemudian menorehkan tanda tangan di sudutnya.*****

Rabu, 23 November 2011

Bocoran Sorga

"SORGA seakan pernah bocor. Dan bocorannya itu bernama Indonesia"

(Emha Ainun Nadjib, budayawan)


Selasa, 22 November 2011

Juru Parkir


ADA tiga jenis (tukang) parkir yang sering saya temui; parkir resmi, setengah resmi dan yang terakhir ,parkir tidak resmi.

Yang resmi tentu saja yang ketika kita parkir, kita dikasih karcis dan lalu kita membayar sesuai nominal yang tertera pada karcis. Jenis ini dapat kita temui di mal-mal. Yang pengelolaan parkirnya sudah sedemiakian rapinya. Yang dikelola oleh pihak yang memang profesional dibidang perparkiran. Nama yang bisa kita temui, sebutlah misalnya Secure Parking. Dan karena uang yang mengalir dari jasa parkir terus saja mengalir, belakangan ISS (peruahaan yang sebelumnya lebih kondang sebagai jasa Cleaning Service) juga turut pula menerjuninya. Untuk jenis parkir yang dikelola, sering diperhitungkan menggunakan sistem  jam. Semakin lama parkir, semakin mahal pula yang harus dibayar. Tetapi, karena dikelola secara profesional, tentu kita tak ragu akan kemana aliran uang parkir yang kita bayar akan mengalir.

Jenis kedua, parkir setengah resmi. Ini sering saya alami ketika berbelanja di Rungkut Jaya, sebuah toserba di Surabaya. Benar memang, ketika saya parkir, saya mendapatkan karcis. Tetapi karcis yang saya terima sudah sedemikian kucelnya. Artinya, tangan saya ini entah sudah tangan keberapa menerima kertas kecil yang sama. Stempelnya resmi, tanggalnya benar, tetapi saya (dan semua yang parkir disitu) tidak ada yang mempermasalahkan ketika ditarik seribu rupiah sekali parkir padahal nominal yang terteta dikarcisnya hanya 500 rupiah saja.

Hitungannya tentu bisa mengelembung. Selain karena satu karcis bisa untuk sekian kali pakai (mungkin kalau tidak sobek si tukang parkir tidak menyobek lembar karcis baru), plus si jukir ‘laba’ 500 rupiah per motor per parkir. Hasilnya? Kapan-kapanlah kita hitung bersama ya...

Jenis ketiga, parkir tidak resmi. Ada? Banyak. Ketika kemarin sore saya membeli susu di toserba Remaja jalan Kutai Surabaya, saya dikenakan tarif seribu. Sama dengan yang di Rungkut Jaya. Bedanya, di Remaja saya tidak mendapatkan selembar karcis pun. Baik bekas atau baru. Artinya, kemana aliran uang parkir itu mengalir, tentu sedikit banyak bisa kita tebak.

Tetapi, dari tiga jenis juru parkir yang saya sebut tadi, ada sedikit kesamaannya; uniform. Ya, seragam tukang parkir nyaris sama. Yang agak beda tentu saja yang wilayah operasionalnya di mal. Tentu seragam karyawan bagian parkir lebih bagus ketimbang dua jenis lainnya. Karena kedua lainnya, selalu saja hanya baju atau kaos biasa, dibalut rompi. Kalau tidak oranye, ya biru warnanya. Tentang apakah rompi itu diperoleh secara ‘resmi’ atau tidak, masih bisa (kalau mau) ditelusuri.

Tentang hal itu saya punya contoh hangat.
Pagi tadi, ketika saya lewat jalan Kalirungkut, Surabaya, persis di depan pabrik Kedawung saya dapati sekumpulan PKL menggelar dagangannya. Biasa dan bukan hal baru. Bukan hal baru pula setiap keramaian, selalu saja ada tukang parkirnya. Artinya, bagi yang jeli menangkap peluang, selalu saja ada keadaan yang bisa mendatangkan uang.
Foto ini saya jepret tadi pagi (22 Nov. 2011)

Untuk area yang tak seberapa luas itu, saya temui ada dua juru parkir. Semua berompi biru. Akur, tampaknya. Tentang bagaimana membagi hasil, tentu belum saya tanya. Karena saya lebih tertarik melihat rompi yang mereka kenakan. Yang kanan, sekalipun tulisannya sudah tampak buram, masih bisa saya baca; Jukir Pemkot Surabaya. Jukir yang satunya, sekalipun tulisannya masih terang menyala, saya gagal mengejanya. Tetapi saya tahu, itu huruf Korea. Namun, apakah rompi itu di Korea sana dipakai oleh tukang parkir atau apa, tentu saya tak berani memastikan. Saya hanya nekad menduga, rompi lungsuran  itu ia dapatkan dari membeli ke penjual baju-baju bekas, yang kebetulan 'sampah' itu berasal dari negeri ginseng.

Salam. 



Senin, 21 November 2011

Hari Baik dalam Klenik #2


AKHIRNYA, dengan didahului ber-basmalah, saya hubungi juga call centre di 63399. Setelah terlebih dulu mengirim SMS ke seorang teman penjual pulsa agar saya dikirimi pulsa senilai 10 ribu rupiah. Kepada mas call centre itu saya ceritakan kronologisnya. Tentu, sebelumnya, saya ditanya tentang aneka data yang memang standard. Misal, tanggal lahir sampai nama ibu kandung. Agar yakin memang sayalah orangnya. Setelah dia yakin tentang keaslian identitas saya sesuai yang ada di data base, saya disuruh menunggu untuk proses selanjutnya. Menunggu, dalam kondisi itu sunguh tidak hanya membosankan. Tetapi juga memutuskan. Pulsa 10 ribu rupiah saya putus asa dalam penantian. Telepon dengan call centre putus.

Kenapa, mas?” tanya seorang kenalan yang rupanya juga akan menarik tunai di ATM di sebelah milik Permata.

Maka saya ceritakan semua gundah-gulana saya.

Iya, ATM ini memang trouble. Kemarin juga ada yang uangnya tidak keluar,” paparnya.

Langgeng, begitu nama kenalan yang sekian belas tahun lalu setuan rumah ketika kost di Rungkut Kidul, menyarankan saya ke kantor cabangnya saja. Dia juga menunjukkan alamatnya.

Selebihnya, sudah menjadi kebiasaan saya, ketika mengalami peristiwa menyangkut suatu pelayanan sebuah institusi, selalu juga saya kabarkan ke dua stasiun radio yang nomor teleponnya sudah tersimpan di ponsel 1100 tua saya ini. Pertama, Suara Surabaya. Kedua El Shinta. Dan, seperti biasa pula, El Shinta-lah yang melakukan panggilan balik untuk menanyai saya tentang kejadian yang saya alami secara lebih runut.

Karena masih pagi sekali, saya pulang saja dengan rencana jam delapan nanti ke kantor bank-nya. Jam tujuh, ketika saya di rumah, El Shinta telepon lagi. Mengabari kalau redaksi sudah menghubungi pihak PermataBank. Dan jam delapan nanti saya diarahkan untuk menemui seseorang di kantor cabang Jemursari. Sungguh saya tidak menyana El Shinta telah bergerak cepat untuk membantu saya.

Di Suara Surabaya, saya ingat memang pernah melakukan registrasi untuk data saya, tepi di El Shinta, tak pernah sekalipun saya melakukannya. Dan, tetapi pihak redaksinya ketika menelepon saya selalu menyebut dengan benar nama saya. Kecurigaan saya satu; ada kru el Shinta yang dulu kerja di Suara Surabaya ikutan membawa data saya!

Jam yang telah saya tentukan saya ke kantor Permata. Dilayani costumer service. Namanya Keni. Intinya pihak Permata meminta maaf atas ketiknyamanan saya. Selebihnya, mbak Keni ini beberapa kali minta ijin meninggalkan saya untuk masuk ke ruang atasannya. Saya curiga, ada sesuatu dengan data saya. Dan benarlah adanya, "Maaf, bapak tadi sudah menghubungi PermataTel?" tanyanya kemudian.

Tentu saya iyakan. Ketika ia membaca hasil print data saya, juga saya iyakan. Bahwa saya pada jam 05.47 WIB tanggal 10 November 2011 telah menghubungi 63339 tetapi hubungan telepon terputus.

"HP saya low batt," saya berbohong. Karena, yang benar pulsa saya habis. (Astaghfirullah hal adhiim, kenapa untuk hal yang tak perlu ini saya mesti berbohong? Sungguh itu saya sadari sebagai ibarat seorang pemain bola yang melakukan sliding keras jauh didepan daerah berbahaya sendiri. Sebuah tindakan yang tak perlu yang sangat merugikan, karena bisa-bisa kena kartu kuning.)

"Begini, pak. Karena bapak sudah menghubungi call centre, penanganan klaim transaksi bapak yang gagal tidak bisa kami ambil alih. Itu sudah menjadi kewenangan pusat."

Menyadari saya agak kurang ngeh dengan penjelasannya, mbak Keni melanjutkan. Begini;" Sesuai data yang ada pada kami, komplain bapak sudah ditangani. Dengan nomor komplain SNSGTOQ00009. Dengan    waktu penyelesaian tiga hari kerja. Berarti tanggal 15 November bapak sudah bisa cek di ATM. Tetapi kalau masih belum masuk, bapak bisa hubungi 63339 lagi."

Saya sedikit tenang, walau dalam hati belum plong.


Senin sore, sepulang saya dari kerja, saya mampir ke ATM. Dengan rasa dag dig dug saya ingin mengecek, uang saya sudah balik apa belum. Dan.... oh, kok masih belum. Saya coba sekali lagi, sama. Saldo uang saya masih belum bertambah 1,5 juta!


Dalam perjalanan pulang kerumah, saya menyusun langkah. Komplain lagi ke 63339 atau 'lapor' ke radio El Shinta dulu. Tetapi, beberapa saat setibanya dirumah, hal pertama yang saya lakukan adalah sholat maghrib dulu. Saya rasa, Allah lebih penting dilapori pertama kali.

Hasilnya? Sungguh luar biasa. Beberapa saat setelah salam, saya dapat petunjuk; hari ini masih Senin. Masih tanggal 14! Belum tangal 15. Tanggal yang dijanjikan sebagai waktu penyelesaian komplain saya.

Masih ada waktu. Ya, ada waktu untuk was-was. Kalau mesin ATM itu memang trouble tentu uang saya masih bisa kembali. Tetapi kalau anjungan tunai mandiri itu sengaja di'akali' oleh orang nakal dengan cara sedemikian rupa, tentu duit saya wassalam.


Maka, seperti mengulang adegan sebuah sinema, Selasa sore, masih juga sepulang kerja, saya melakukan yang saya lakukan Senin sore. Persis. Tetapi hasilnya saya sangat berharap tidak persis.

Dan, setelah memasukkan PIN, lalu cek saldo, lalu.... alhamdulillah yah. Duit saya sudah balik 'pulang'.

Rabu, 16 November 2011

Hari Baik dalam 'Klenik' (1)


UNTUK banyak urusan, masih saja ada yang percaya pada klenik. Ada saya jumpai, seorang pengusaha sukses, berwawasan modern, tetapi ketika menggelar acara ditempat terbuka, ia masih kurang PD bila tidak menggunakan pawang hujan. Itu dianut orang kota yang notabene pola pikirnya sangat maju. Apalagi bagi bapak saya didesa sana. Maka, klenik never die...

Untuk urusan memotong pohon bambu sebagai bahan bangunan rumah saja, orang didesa saya harus memilih hari baik. Karena, menurut mereka, bila memotong bambu disembarang hari tanpa perhitungan yang matang, sungguh bambu itu akan cepat rusak. Agak sukar diterima akal, tetapi begitulah kepercayaannya.

Saya, sekalipun tak pinter-pinter amat, tetapi sekaligus tidak ndeso-ndeso amat, sangatlah tidak mengerti perhitumgan Pon-Kliwon dan hari-hari baik lainnya. Tetapi, ketika menikah dulu, saya juga dicarikan hari baik. Alhamdulillah, sampai sekarang, rumah tangga saya tak pernah diliput dan digossipkan di infotainment. Hehehe, lha memang bukan selebritas!

Ketika Edwin minta kamar sendiri sementara rumah saya selama ini masih 'setengah badan' (baca: cuma mampu membangun bagian belakang saja), maka --karena si kamar masih 'tidur'-- saya harus membangunkan dulu. Konsepnya minimalis sekali. Sesuai kapasitas dompet saya yang memang selalu minimalis.

“Tanya mbah Kung dulu. Hari baik untuk bangun kamar itu kapan,” istri saya ber-klenik-ria.

Ketika mudik lebaran kemarin, mbah Kung memberi ancer-ancer. Bulan apa saja, yang penting kalau ketemu Kamis Pahing, Jumat Pon, Sabtu Wage dan Minggu Kliwon itu baik semua.

Baiklah. Ternyata hari-hari itu di bulan Syawal tukangnya masih menggarap tempat lain. Sementara di bulan Sela, pak tukang pantangan memulai membangun rumah. Maka, pilihan disepakati pada bulan Besar. Kamis Pahingnya bertepatan dengan tanggal 10 Nopember. Bertepatan dengan hari Pahlawan. Wah, benar-benar hari baik ini.

“Hari baik itu kalau pas punya uang. Sekalipun Kamis Pahing atau Minggu Kliwon tetapi kalau tidak ada duit, ya tidak bagus memulai bangun rumah,” celetuk kakak saya ketika itu.

Ya, uang.
Untuk keperluan belanja material dihari pertama pembangunan kamar Edwin, pagi-pagi sekali saya ambil sejumlah uang di ATM bank Permata di JS Plasa (dulu Sinar Jemursari). Saya berencana menarik tiga juta rupiah. Dan karena mesin ATM hanya membatasi 1,5 juta dalam sekali pengambilan, saya bagi menjadi dua kloter. Kloter pertama sukses mendarat dengan selamat ditangan saya. Giliran 1,5 juta kedua, setelah bunyi laiknya uang akan muncul dan tangan saya siap didarati kloter kedua, tiba-tiba mulut ATM tertutup rapat. Malah menjulurkan struk transaksi yang sudah kepotong. Nah lho!

Ini dia. Saya agak panik. Uang satu setengah juta, men...
Sementara untuk menghubungi call centre yang menempel dimesin ATM, saya juga ragu. Jangan-jangan itu hasil tempelan tangan nakal seperti sering (dulu) diberitakan televisi. Tetapi, ya harus ada yang saya hubungi saat itu juga. Karena untuk ke kantor bank bersangkutan di jam setengah enam pagi begitu, mana ada yang buka!

Padahal ini hari pilihan. Tetapi kenapa justru saya mengalami hal tidak baik malah dihari baik?

(bersambung)

Senin, 14 November 2011

Ban Dalam


SABTU siang kemarin (12 Nov. 2011), ban depan motor saya bocor. Kecurigaan saya, ia tertusuk bendrat (kawat) pengikat kolom. Maklum, didepan rumah saya itu kemarin dipakai tempat pabrikasi rangka besi untuk kolom cor. Jadi, sekali lagi, potongan kecil kawat kecil itulah tersangkanya!

Tak perlu repot. Karena dibelakang rumah saya ada tukang tambal ban. Pak Man, namanya. 'Purnawirawan' preman kampung. Saya hanya perlu memutar dari gang Perjuangan ke gang 7 Raya. Dekat saja. Tetapi ketika saya mendekat, saya lihat pak Man sudah pakai batik,”Mau kondangan,” katanya.

Ketimur sedikit juga ada tukang tambal ban sebenarnya, tetapi dengan adanya tenda, kursi dan sound system didepan rumahnya, saya yakin, ia sedang tidak buka praktek hari itu.

Ini dia. Saya harus melambung ke jalan raya. Balik kanan lewat barat kali, via gang IX, setelah kuburan kembar, saya ingat, ada tukang tambal ban disitu. Ya, agak jauh. Menuntun si Supra sampai berpeluh. Doa saya terkabul; ia sedang tidak 'buwuh'. (Maklum, bulan baik begini banyak sekali undangan untuk mengahadiri walimatul 'ursy, atau walimatul khitan).

Saya dapat antre nomor dua. Karena si GL Max hadir sekitar dua menit dibelakang saya. Urutan pertama, dan sedang ditangani, adalah Jupiter Z warna hijau daun yang ditunggangi seorang pemuda berkaos hitam.

Saya lihat tukang tambal ban geleng-geleng kepala. Tambalannya pada titik yang bocor belum sempurna. Ia menyemburkan gelembung air saat direndam. Terpaksa dikupas lagi.

Sebenarnya tambalan itu berada persis didekat tambalan lama. Saat tambalan itu dikupas, terlihatlah 'penyakitnya'. Sobek sekitar duasetengah centi. Bagi saya, dengan panjang sobek segitu, diposisi ban belakang, tentu pilihannya adalah ganti ban baru. Lebih-lebih, saya lihat dibeberapa titik telah ada tambalan lama. Dengan jumlah tambalan sebanyak itu, tentu ganti ban dalam lebih aman. Tetapi, lain ladang lain belalang.

Saya lihat si empunya motor malah tiduran dibangku panjang. Membiarkan sang tukang tambal mengerahkan semua ajian untuk membuntu sobekan itu.

Dulu, didekat RSI Wonokromo saya pernah mendapati dua orang yang lunglai terkulai gara-gara ban bocor. Dan diagnosa tukang tambal, ban dalamnya harus diganti. Sobeknya sudah dalam taraf parah, dan tak terselamatkan. Tetapi, apesnya, dua orang penunggangnya sedang tak punya uang!

Sekarang, saya sangka, anak muda yang tiduran didekat saya ini juga dalam kondisi sama. Tidak ada uang untuk beli ban dalam yang harganya berfariasi; dari yang 20 ribu (Primax), 24 ribu (IRC) atau yang Genuin part 25 ribu. Tetapi, semurah apapun harganya, kalau sedang tidak ada uang, mau bagaimana.

Setelah ditambal lagi, dengan dua titik berdekatan, dicelup ke bak kecil, dan... tukang tambal bersyukur. Sukses!

“Berapa?” tanya pemuda ber-Jupiter Z itu.

“Enam ribu,” jawab tukang tambal ban.

Pemuda itu merogoh saku kiri depan celana jeans-nya. Begitu keluar, tangannya sudah menggenggam segepok uang lima puluh ribuan. Dengan uang ditangannya itu, tentu ia bisa membeli sebecak ban dalam. Tetapi, mengapa tidak ia ganti?*****

Selasa, 08 November 2011

Ketika Cinta Jatuh Cinta


JAM satu siang Cinta pulang dari sekolah. Ganti baju, mandi, makan lalu berangkat lagi. Sekalipun Ayah tahu, tetapi  ia menanyainya juga.

“Latihan lagi, Yah,” katanya.

Ayah tersenyum. Tentu ia belum pikun. Karena, naskah drama yang akan Cinta mainkan bulan depan itu memang hasil tulisan Ayah.

Cinta, Cinta...
Kalau ibunya masih ada, tentu ia juga akan bahagia. Cinta yang cantik, secantik ibunya. Tetapi Ayah sadar, walau kurang lengkap, hidupnya berdua bersama Cinta sampai sekarang cantik-cantik saja.

Ayah kembali masuk rumah ketika Cinta berangkat lagi. Ayah ingin meneruskan menulis. Tetapi beberapa saat didepan komputer, jari-jarinya tak juga menari diatas keyboard. Sekian menit  Ayah hanya diam. Diam? Oh tidak. Ayah sedang mengamati sebuah foto di meja kerjanya. Pandang mata Ayah menyorotkan kerinduan yang sangat.

Wanita dalam foto itu ibunya Cinta. Bunga namanya. Tetapi semakin memandangi, Ayah bukannya berbunga-bunga. Betul memang. Pada saat-saat tertentu Ayah sedih juga. Ayah, sekalipun lelaki, ia adalah manusia juga.

JAM empat sore Ayah gelisah. Mendung yang menggantung membuat Ayah makin resah. Cinta belum pulang. Padahal biasanya, jam segini sudah selesai latihan dramanya. Ketika gerimis mulai jatuh satu-satu, Ayah merogoh ponsel disaku.

Masih sambil berdiri diteras, Ayah menelepon Cinta. Ada nada tersambung, tapi tak juga diangkat. Sementara gerimis makin besar butirannya. Makin rapat pula jaraknya. Dalam keadaan begitu, Ayah mana yang tidak gelisah.

Sampai nada sambung terputus, Ayah masih belum terima. Ayah ulangi lagi menelepon Cinta. Ketika nada sambung kembali berdengung, Ayah lega. Diujung gang, Ayah melihat Cinta datang. Berlari kecil selincah gerimis. Berpayung merah muda. Tetapi, hei.., dia tidak sendiri. Dia sepayung berdua dengan seorang lelaki.

Ayah menunda geleng-geleng kepala melihat buah hatinya begitu. Sungguh, dalam beberapa detik Ayah terbang kemasa lalu. Mengenang Bunga. Yang selalu menjadi idola laki-laki. Cinta rupanya mewarisi nasib mendiang ibunya.

Cinta berjingkat menuju teras. Lelaki pengantar itu, Ayah melihat, sedang ragu-ragu. Antara ikut mampir atau terus pulang. Ayah melirik Cinta, mata gadis itu berbinar aneh. Tetapi Ayah tahu maknanya. Makanya Ayah lalu berkata, “Ajaklah mampir dulu. Hujan kan masih agak deras. Disini minum teh hangat dulu, sambil menunggu reda.”

Kembali Ayah melirik Cinta. Senyum buah hatinya itu girang bukan kepalang. Tetapi,

“Terima kasih, Om. Lain kali saja,” sopan sekali lelaki itu menolak. “Permisi, Om. Saya pulang dulu.”

Ayah mendengar Cinta menarik nafas dan menghembuskan dengan tenaga yang sama. Dan, sekali lagi, Ayah tahu apa artinya.

“Terima kasih ya, Vito,” kata Cinta.

Oh, lelaki sopan itu namanya Vito, batin Ayah.
Setelah Vito dan payung pink-nya tak terlihat di ujung gang, Ayah mendekap pundak Cinta. Ayah mengajak Cinta masuk rumah. Agar Cinta segera mengeringkan rambutnya yang sedikit basah kena tampias hujan.


SEKALIPUN senja dilumuri hujan, secangkir teh hangat  mampu sedikit mengurangi rasa dingin. Dan Cinta dengan penuh cinta membikinkan Ayah secangkir kehangatan itu. Setelah meletakkan teh hangat dimeja Ayah, Cinta membawa tehnya sendiri ke ruang tengah.

Ayah menghentikan menulisnya, dan menyusul Cinta keruang tengah.

“Novel Ayah sudah sampai mana?”

“Sudah selesai kemarin pagi. Ini sudah mulai mengedit,” jawab Ayah.

Cinta meletakkan cangkir teh hangat yang sedari tadi digengamnya, lalu menyusup ke dada Ayah. Ayah dan anak itu sedang saling menghangatkan. Dalam dekapan Ayah, Cinta merasa damai. Hal yang juga dirasa Ayah.

“Siapa nama temanmu tadi?”

Mendapat pertanyaan itu, perlahan Cinta bangkit dari dekapan Ayah.

“Kenapa, Yah?”

Oh, Ayah kaget. Kok ditanya malah nanya. Tetapi Ayah segera tersenyum. “Tidak apa-apa. Ayah cuma lupa namanya...”

“Vito, Yah.”

“Teman sekelas? Kok Ayah tidak pernah lihat sebelumnya.”

“Dia anak baru, Yah. Pindahan dari luar kota. Sekarang dia tinggal dirumah baru di belakang SPBU itu lo, Yah.”

Ayah tahu rumah baru itu. Rumah didepan rumah pak Gun guru bahasa yang juga tempat Cinta dan kawan-kawan latihan drama.

Selanjutnya,  dengan berbinar-binar Cinta bercerita tentang Vito. Kata Cinta, Vito itu pintar. Main drama juga jago. Main sepakbola dan basket juga bisa diandalkan.

Ayah mendengarkan dengan seksama cerita Cinta. Dari nada suara dan binar matanya, Ayah mengira Cinta sedang jatuh cinta.

“Kamu suka dia?”

Cinta tidak menjawab. Tetapi sorot mata itu Ayah tahu Cinta sedang mengiyakan.

“Kamu cinta dia?”

Kali ini Cinta tersenyum. Dan, sekali lagi, Ayah tahu apa arti senyum itu. Ayah mengacak lembut rambut Cinta. Lalu dengan sayang menjentik ujung hidung bidadarinya. “Untuk mencintai siapapun Ayah tak akan melarangmu, Cinta. Dan sepertinya, Vito itu anak yang baik.”

Mendengar itu Cinta kembali menyusup ke dada Ayah. Cinta merasa sangat beruntung memiliki Ayah yang baik sekali. Ayah yang sangat mengerti. Ayah, yang sungguh --dalam tiga tahun ini-- sebagai 'ibu' juga.

“Cinta, boleh Ayah meminta sesuatu darimu?”

Cinta mepaskan diri dari dada Ayah. Bersiap mendengar permintaan Ayah.

“Satu saja,” kata Ayah. “Jangan jatuh cinta saat ini.”

“Kenapa begitu, Yah?” tanya Cinta dalam rengekan manja.

Ayah meraih kepala Cinta dan memeluknya dengan sayang. Ayah membelai rambut Cinta dengan lembut. Dengan lembut pula Ayah lalu membisikkan alasan kenapa Cinta tidak boleh jatuh cinta dulu, “Karena kamu baru kelas lima...” *****

Saya Pernah Menjadi WNA


SETTING catatan harian saya kali ini masih se-TKP dengan tulisan sebelumnya. Yaitu sebuah bank swasta nasional yang letaknya tak terlalu jauh dari tempat kerja saya. Kesitulah saya menuju setiap kali setor tunai. Biasanya saya lakukan disaat istirahat siang.

Sedikit demi sedikit lama-lama menjadi bukit. Tiga ratus ribu (atau sering kurang dari itu) sebulan atau kadang tiga bulan sekali, akhirnya lumayan. Untuk menyiasati agar tidak sedikit-sedikit saya ambil, sejak awal memang saya tidak meminta kartu ATM. Dulu saya membuka rekening sebenarnya di Rungkut, dekat tempat tinggal saya. Tetapi karena letak kantor cabang pembantu itu lebih dekat dengan kantor saya, kesitulah saya lebih sering bertransaksi.

Setahun lebih sekian bulan kemudian, buku tabungan saya penuh. Sekalipun tidak penuh uang, tetapi telah tiba saatnya ganti buku. Setelah tanya teman, ternyata untuk mengganti buku baru, saya tidak perlu ke kantor dimana saya buka rekening dulu. Di capem manapun bisa.

“Mau ganti buku,” jawab saya ketika seorang satpam membukakan saya pintu kaca.

Dengan sopan dia menunjuk ke sebuah tempat di sudut kiri depan. Lebih depan ketimbang deretan tiga orang teller. Pada papan dimejanya tertera; Customer Service.

“Selamat siang, pak. Ada yang bisa saya bantu?” sapa berhias senyum itu menerpa saya.

Setelah saya duduk manis didepan si customer service yang teramat manis itu, saya utarakan maksud saya. Ia meminta buku lama saya yang penuh sesak oleh catatan transaksi potongan pajak dan bunga yang tak seberapa, dibanding setoran yang tak tentu munculnya.

Setelah menerima buku tabungan, ia mencocokkan dengan data base  di komputer. Beberapa saat kemudian, ia memandang saya sambil mengernyitkan dahi. Oh, rupanya ia lupa-lupa ingat wajah saya. Sering orang menyangka saya ini artis yang sering nongol disinetron. Hehehe...

“Bapak WNA?!”

Saya tak siap mendapat pertanyaan itu.
Dan setahu saya, Lamongan, domisili saya sesuai KTP, belum memisahkan diri dari Indonesia. Juga, kalau data itu sampai menyangkut kota kelahiran saya; Jember-pun masih dalam wadah NKRI.

“Tetapi didata kami, bapak WNA,” si costumer service menyangkal keterangan saya.

Lhadalah. Makanya saya sering heran, setiap setor tunai yang tak seberapa itu, selalu saja saya dimintai biaya administrasi secara tunai. Tidak besar sih. Cuma 3000 rupiah per transaksi. Yang saya heran, lha saya setor untuk rekening saya sendiri kok dikenakan biaya. Tetapi karena saya memang baru kali itu punya rekening di bank, saya anggap memang begitu peraturannya.

“Maaf, pak. Kami tidak bisa memprosesnya disini. Bapak harus ke kantor dimana bapak buka rekeing ini dulu,” mbak CS itu berkata.

“Kantor capem di Rungkut sudah tidak ada, mbak. Saya tidak tahu pindah kemana.”

“Kalau begitu, bapak bisa ke kantor kami di Kendangsari.” ia menjelaskan.

Jelasnya, ini makin tidak jelas.


Besoknya saya ke Kendangsari. Manisnya wajah sang costumer service, sudah tak terlalu saya perhatikan. Feeling saya, urusan mengubah kewarganegaraan saya ini tidak mudah.

“Maaf, pak, atas kesalahan kami,” kata CS di Kendangsari.

Ya, tentu saya maafkan, batin saya.

“Begini, pak. Daripada mengubah status kewarganegaraan bapak yang makan waktu lama, lebih baik bapak membuka rekening baru. Dan nanti uang yang direkening lama dipindahbukukan ke rekening baru. Bagaimana, pak?”

Tentu saja saya setuju. Yang penting status saya aman. Uang saya juga aman.

Jadilah saat itu juga saya membuka rekening baru. Membuat data baru. Termasuk tentu saja ditanya nama ibu kandung. Juga membayar dua lembar materai. Baru setelahnya mbak CS yang ramah itu meminta KTP saya untuk difoto copy.

Ia memerhatikan KTP saya. “Lho, kok KTP Lamongan, pak?”

Perasaan saya tidak enak lagi.

“Maaf, pak. Dulu memang bisa membuka rekening di Surabaya pakai KTP luar kota. Tetapi peraturan baru, kami tidak diperkenankan begitu lagi, pak.”

“Lalu saya harus bagaimana, mbak?”

“Bapak harus membuka rekening baru di kota bapak.”

Wih, menjadi WNA ternyata kok urusan menjadi ruwet begini. Tetapi mau bagaimana lagi. Kalau saya berkeras menaturalisasi status WNA saya dengan menjadi warga negara Indonesia, tentu ini bukan dalam rangka sok nasioalis. Ini perkara uang! Sekalipun jumlahnya tak seberapa.

Setelah urusan kewarganegaraan saya kembali, dengan membuka rekening baru bukan di bank itu, saya ayem. Lebih ayem lagi ketika uang saya ketika menjadi WNA itu telah berhasil pindah tempat ke rekening baru. Di bank baru itu, saya kembali menjadi WNI. *****

Senin, 07 November 2011

Setor Tunai


KANTOR capem bank ini mempunyai tiga teller. Satu khusus BG dan sejenisnya, yang dua untuk transaksi tunai. Untuk non tunai cenderung sepi, tetapi tidak demikian dengan yang tunai. Antrean mengekor lumayan panjang. Tetapi saya lihat teller 2 lebih pendek ekornya ketimbang teller 3. Kesitulah saya bergabung. Berdiri persis dibelakang lelaki seusia saya dengan sandal jepit dan jaket kumal. Ia menyandang tas yang tak kalah kumalnya.

Setelah beberapa menit, saya sudah berada di urutan ketiga. Si teller sedang melayani seorang wanita muda yang wajah dan penampilannya membikin ruang yang sudah sejuk ini menjadi makin sejuk. Ramah sekali sang teller melayaninya. Dan, dari nada bicaranya, sepertinya mereka memang sudah saling kenal. Sambil menghitung setoran tunainya yang lumayan banyak, mereka terus saja tertawa-tawa. Begitulah, wanita kalau sudah akrab, selalu saja bikin ramai.

Akhirnya selesai sudah. Beberapa bendel uang seratus ribuan dan lima puluh ribuan masuk ke laci teller. Harum parfumnya semerbak ketika wanita cantik itu beringsut keluar dari antrean dan berjalan aduhai disamping saya. Sekarang si lelaki kumal itu maju ketampil.

Tetap dengan ramah sang teller menyambut. Senyum dan salam meluncur standard front liner. Hebat betul para teller itu. Tak peduli berpenampilan bagaimana, si nasabah selalu mendapat sambutan ramah.

Lelaki kusut itu menyodorkan selembar slip transaksi. Dari warnanya saya tahu, ia akan setor tunai. Kertas itu sewarna dengan yang sedang saya pegang. Pada nominal yang saya tulis, tertera angka tiga ratus ribu rupiah. Bagi saya, itu angka yang lumayan tinggi sebagai nilai tabungan per bulan.

Saya melirik jam dinding. Menurut perkiraan, tak lebih dari sepuluh menit lagi pasti transaksi saya sudah selesai. Dan segera kembali ke tempat kerja. Karena, masih menurut dugaan saya, paling-paling lelaki kumal itu juga akan setor sekitar nominal saya.

Saya sudah merogoh saku dan mengeluarkan enam lembar uang lima puluh ribuan ketika lelaki kumal itu juga mengeluarkan isi ransel bututnya. Isinya? Bikin dompet saya  semaput!

Saya mendengus pelan. Melirik antrean di teller 3 yang masih mengular. Lirikan berikutnya, jam dinding yang menjadi sasaran. Alamat terlambat balik kantor, nih, batin saya.

Pasalnya, isi perut tas kumal itu uang berjejal-jejal. Penuh. Jauh diatas nilai uang yang saya genggam sampai keringetan ini. Dan, uang lelaki itu terdiri dari aneka nominal. Bisa dibayangkan, butuh waktu lama si teller untuk 'membereskannya'.

Tak perlu mencari tahu itu uang sendiri atau hanya disuruh majikannya, hari itu, dikantor capem bank itu, saya benar-benar membuktikan kebenaran dari sebuah pepatah. Jangan menilai buku hanya dari sampulnya.

Salam.

Gelitik Money Politic


SESERU-SERUNYA Pileg ( tentu sampeyan paham ini bukan nama penyakit, hehe...), pilbub, pilgub, pilpres dan pil-pil yang lain, bagi saya, tidak bisa mengalahkan keseruan pemilihan kepala desa. Ini karena dalam pemilihan kades, ada perang yang lebih tegang. Hubugan emosional yang lebih kental adalah penyebabnya.

Bandingkan, coba, dengan caleg, cabub, cagub dan ca-ca yang lain yang tiba-tiba pasang benyak poster didesa-desa, lalu kemudian sok akrab dengan orang kampung. Sebuah jalinan hubungan yang instan untuk sebuah tujuan yang tidak kalah instan.

Sebagai cakades, pilkades lebih dari itu.
Tiap hari kita sudah tahu solahnya. Tahu tabiatnya. Tahu track record-nya. Jadi, untuk menjadi kades, masa kampanye yang sesungguhnya adalah sepanjang masa. Bukan ujug-ujug. Tidak instan.

Tetapi untuk urusan 'peluru' (baca: money politic) dalam pemilihan kades juga bisa sebagai penentu kemenangan. Oh, rupanya gelitik money politic sudah sedemikian hebatnya di negeri ini. Siapa yang mencohtohkan, tentu sampeyan sudah pada tahu.

Siapa bilang pileg gak pakai itu? Siapa bilang pilpres tidak begitu? Siapa bilang cagub, cabub tidak melakukannya? Ha?

Pilkades sekarang memang sudah sedemikian maju. Tidak memakai gambar buah atau palawija untuk lambang para calonnya. Sudah pakai poster. Dan, barangkali, juga pakai konsultan politik yang sengaja dibayar untuk me-manage segala pola kampanye demi sebuah kemenangan.

Suatu hari saya kedatangan tamu. Ia adalah seorang tim sukses dari satu diantara dua calon yang maju pada pilkades didesa saya. Walau ia pandai membumbui ucapan mukadimahnya pada pertamuan itu, saya sudah bisa menebak tujuannya. Ia ingin saya bisa menggiring seluruh keluarga saya untuk mencoblos calon yang 'dipegangnya'. Lumayan kan, ditambah adik ipar dan mertua dan istri saya, kami mempunyai empat suara. Dalam pemilihan secara langsung begitu, sesuara pun begitu berharga. Dan bisa jadi menjadi penentu sebuah kemenangan

Tetapi untuk bisa sesuara, tentu harus tahu sama tahu. Harus tidak gratis. Oh, ini bukan pakem saya. Tetapi sang tim sukses itu yang punya pandangan begitu. Maka, malam itu sesuara ia hargai 25 ribu. Kali empat, berarti seratus ribu telah berpindah ke tangan kami.

Sekian hari kemudian, datang lagi tim sukses dari calon yang satunya. Sama, ia juga pinter banget memoles 'jualannya'. Yang dibilang, si calon masih ada hubungan famili dari nenek mertua saya, dan mecam-macamlah. Pokoknya yang baik-baiklah yang dibilang. Namanya juga kampanye. Dan ujung-ujungnya, ini dia; uang. Lumayan, selisih sepuluh ribu lebih besar ketimbang calon yang satunya.

Tetapi keputusan ada ditangan kami. Paling tidak ditangan saya.
Karena saya bukan orang asli desa ini, tentu secara emosional hubungannya tidak begitu kental. Lain halnya bagi istri, adik dan mertua saya. Sungguh, walau telah kena money politic, saya tetap harus menentukan pilihan secara rasioanal..


Tibalah saatnya pemilihan. Sejak malam, suhu politik makin mendidih. Ada yang rela tidak tidur semalaman agar bisa melihat 'pulung' cemlorot jatuh ke atas rumah calon yang mana. Karena, beberapa orang percaya, cahaya yang jatuh keatas rumah itu bisa sebagai petunjuk si calon akal jadi. Walau begitu, sebagai penentu tentu jumlah suara yang diperoleh.

Setelah nama saya dipanggil, dengan mantap saya menuju bilik suara. Dua calon terlihat duduk gagah ditengah pendopo balai desa. Saya memandang keduanya dengan tatapan hormat. Tetapi harus saya tentukan memilih siapa. Yang ngasih 25 ribu atau yang 35 ribu?

Didalam bilik suara, saya tentukan nasib keduanya. Jus, juuusss. Beres. Kertas suara saya lipat lagi. Saya masukkan kotak suara. Lega sudah rasanya. Tinggal menunggu penghitangan suara selepas jam satu siang nanti.

“Bapak tadi milih siapa?” si Edwin, anak sulung saya, bertanya.

Karena ia masih kecil, masih belum cukup umur untuk saya kasih tahu. “Rahasia,” kata saya.

Tetapi, sesampainya dirumah, dan ditanya istri, saya lebih berani terbuka. Padahal seharusnya pilihan adalah tetap rahasia.

“Sekalipun ngasihnya cuma 25 ribu, ia secara famili masih lebih dekat kita, lo,” istri saya berkata.

Tangkapan saya, tadi ia nyoblos yang itu. Dugaan berikutnya, adik ipar dan emak mertua saya sepertinya setali tiga uang.

“Kasihan,” gumam saya.

“Jadi sampeyan nyoblos yang ngasih 35 ribu?!” istri saya penasaran.

“Tidak.” jawab saya.

Istri saya lega mendengarnya.

“Biar adil, Aku coblos dua-duanya.” lanjut saya*****


Minggu, 06 November 2011

Ketika Sakit Gigi tak Juga Pergi

SYAIR lagu memang bisa keliru bila diterapkan dalam kehidupan nyata. Maaf, karena sudah pernah saya tulis, ini bukan tentang lagu dangdut Hamil Duluan. Tetapi tentang 'kurikulum' menggosok gigi. Mari sejenak kita mengenang lagu ini; bangun tidur kuterus mandi, tidak lupa menggosok gigi... dst, dst.

Entah karena lagu ini atau apa, ibu saya selalu mengajari menggosok gigi saat mandi. Dua kali sehari, seperti jadwal mandi. Dan, entah karena hal itu atau bukan, gigi geraham kiri bawah saya berlubang sejak sekitar saya SD kelas lima. Jadi, saya sudah bisa merasakan bagaimana serunya sakit gigi sejak kecil. Jauh hari sebelum saya mengenal lagu dangdut Sakit Gigi-nya Meggy Z.

Bila sedang kumat sakitnya, paling banter ibu saya menempelkan selembar koyok pada pipi kiri saya. Tanpa pernah membetulkan cara dan waktu yang bagus untuk menggosok gigi. Dan satu lagi, dalam menggosok gigi itu, sering saya melakukannya dengan tanpa pasta gigi. Ya cuma lawaran  pakai sikat saja. Karena untuk ikut meniru ibu yang pakai bubuk batu bata saya merasa kurang nyaman.

Berbeda dengan teman saya yang juga mengidap sakit gigi, bila kumat pipi saya tidak bengkak. Tetapi jangan ditanya sakitnya. Nyut-nyut dan sedut-sedutnya selangit rasanya.

Menginjak SMP tentu saya makin pinter. Walau belum juga menyadari kekeliruan gosok gigi yang tetap satu paket dengan mandi. Bukan setelah makan. Yang saya sebut pintar disini adalah, setiap sebelum makan, demi menghindari ada makanan yang masuk kelubang digigi saya, selalu saja saya membuntu lubang itu dengan segumpal kecil kapas. Makanya, kemanapun saya pergi, selalu ada kapas di saku saya. Jaga-jaga; sedia kapas sebelum makan.

Selesai makan, dengan memakai sepotong lidi atau batang korek api, saya ambil segumpal kapas itu. Sip. Aman. Lubang digigi saya tak kemasukan makanan. Tetapi tentu saja pernah gagal. Beberapa kali sehabis makan, tidak saya temukan si kapas. Jelas, ia ikut masuk kelambung saya. Saya tidak tahu apakah kapas bisa dicerna oleh lambung saya atau tidak, tetapi saya merasa baik-baik saja.

Masih belum lama saya mengakhiri tindakan bodoh saya itu. Sekarang saya tahu, dengan menggosok gigi sehabis makan, selain mengurangi kemungkinan kumat sakit gigi, juga lebih terasa nyaman dimulut. Terbukti, belakangan lebih jarang saya merasakan denyut maut di geraham kiri saya.

Sakit gigi pula yang mencerminkan saya bukanlah orang yang konsisten. Inkonsistensi itu jelasnya begini; Bila sedang sakit-sakitnya, saya sering bertekat untuk mencabutkannya ke dokter gigi setelah sembuh nanti. Tetapi setelah sembuh betulan, rasanya kok eman-eman. Itu tidak hanya terjadi sekali.

'Lebih baik sakit gigi, dari pada sakit hati', sebagai penggalan lagu dangdut itu terus terang tidak saya setujui. Karena tentu lebih baik tidak sakit, gigi maupun hati.

Salam.

Jangan Remehkan Angka Nol


DARI sembilan angka yang kita kenal sekarang, ternyata angka nol (0) justru ditemukan belakangan. Yang menemukan adalah seorang laki-laki kelahiran Khifa, Iraq, pada tahun 780. Lelaki jenius itu, selain mahir dalam ilmu geografi, sejarah dan seni, yang tak kalah dikuasainya adalah ilmu matematika.. Beliau adalah ilmuwan muslim yang salah satu kitab terkenalnya berjudul Hisab al-Jabar wal Muqabla. Namanya, Muhammad bin Musa al Khawarizmi.

Seorang lelaki tua membawa motor Yamaha tuanya yang warna merah, menuju pompa bensin di sebelah TMP Mayjen Sungkono, Surabaya. Beliau mendapat antrean persis didepan saya. Walau saya tidak mengenalnya, yang jelas saya haqqul yaqin beliau tidak bernama Muhammad bin Musa al Khawarizmi!


“Empat ribu,” katanya kepada petugas SPBU.

Si petugas menombol angka pada mesin pompa, sejurus kemudian selang premium itu telah masuk ke mulut tankinya.

Setelah si petugas menerima pembayaran dari si bapak tua itu, ia menata lembar-lembar uang yang dipegangnya. Uang dari bapak tadi terdiri dari empat lembar uang kertas nominal seribuan. Yang dua ribuan belum ada ketika itu.

Lagi asyik menghitung, tiba-tiba tanki motor itu muntah-muntah. Kepenuhan. Secepat gerakan pesilat si petugas menutup kran. (Saya tidak tahu istilahnya, kran atau apa. Pokoknya mematikan aliran bensin dari selang.)

Terjadi eyel-eyelan sejenak. Si petugas meminta bapak tua itu menambah uangnya. Masa ful tank cuma empat ribu.

Tidak kalah ngeyel, si bapak tua tidak mau. “Yang salah sampeyan kok saya yang harus bayar,” gerutunya.

Si petugas hanya cemberut. Entahlah, apakah muka kusut itu ditujukan kepada si bapak yang tidak mau disalahkan, atau ia malah menyesali kekeliruannya sendiri. Kebanyakan menekan nolnya. Lebih satu. Sehingga menjadi Rp. 40.000!

Nominal segitu, tentu bukan ukuran isi perut si Yamaha 75 !*****

Sabtu, 05 November 2011

Iri? Kenapa Tidak!


ADA satu sifat, yang dalam pelajaran budi pekerti yang saya terima ketika SD dulu, harus dijauhi. Salah satunya adalah sifat iri. Sifat iri (sering dijodohkan dengan dengki) adalah hal yang termasuk buruk, kata pak Damiri. Beliau adalah  guru yang pegang mata pelajaran PMP saat saya kelas lima sekolah dasar.

 Tetapi bagaimana seandainya kita iri untuk berbuat baik?

Foto saya kali ini tentu bukan jawaban atas pertanyaan diatas. Tetapi jelas ada rasa iri yang teramat sangat ditunjukkan oleh orang tua sang notaris ini. Tentu, karena saya belum pernah ketemu langsung dengan bu Iri ini, saya tidak tahu perkiraan usianya. Saya hanya mereka-reka saja. Dalam rekaan itu, jangan-jangan beliau lebih muda dan lebih cantik dari istri saya. Dan itu membuat saya iri.

Rekaan berikutnya, sepertinya orang tua beliau sangat menjiwai lagu Gito Rollies yang dulu sempat kondang.

Sepatu putih menghiasi kaki si nona
Celana jeans menemani penampilannya

Begitu sepenggal syair lagu yang dibawakan oleh si kribo yang bersuara serak-serak seksi itu. Dalam lagu itu, Bangun Sugito, begitu nama asli vokalis band The Rollies ini, menggambarkan tentang kecantikan seorang nona bernama Astuti yang memesona.

Rupanya, (ingat, ini masih dalam rekaan saya) rasa iri yang sedemikian hebatnya itu diabadikan oleh orang tuanya untuk disematkan menjadi sebuah nama. Jadilah Iri Astutiek.

Klien notaris yang memesona ini, bila iri dengan kecantikan, profesi dan gelarnya, tentu tidak dilarang turut pula menyematkannya pada nama anaknya. Tetapi risikonya nama menjadi agak panjang sedikit. Iri-nya jadi dua kali; Iri Iri Astutiek.

Sekali lagi, ini hanya rekaan saya. Saya harap sampeyan tidak iri. 

Sebecak Bertiga


ADA  lagu dangdut lama yang masih saya ingat. Judul lagu yang dibawakan Ida Laila itu; Sepiring Berdua.Tetapi gambar yang saya jepret sore tadi ini tentu tidak dalam kondisi makan sepiring bertiga. Tetapi sebecak bertiga.

Rupanya si kambing lebih senang menghadap ke belakang. Mungkin takut mabuk perjalanan. Tetapi karena dua pantat kambing itu lebih dekat ke satu-satunya penumpang yang bukan kambing, tentu bapak itu yang akan mabuk perjalanan bila si mbeeek ini kentut.
Dan dua ekor kambing itu tidak dalam rangka naik becak tamasya berkeliling-keliling kota, untuk melihat-lihat pemandangan yang ada. Tidak. Dan naik becak itu, barangkali, adalah pengalaman pertama sekaligus terakhir bagi si kambing. Karena besok (6 November 2011), selepas sholat Idul Adha, keduanya akan menghadapi kenyataan akan di-kurban.

Semoga diterima disisiNya. Amin.

Musim Hujan

BARU kemarin sore  untuk pertama kalinya, Surabaya diguyur hujan lebat musim ini. Walau begitu, beberapa ruas jalan sudah tergenang.

"Sehabis maghrib, jalan HR Muhammad depan BCA, air sudah selutut," cerita Ateng Sunaryo, teman sekerja saya.

Begitulah. Setiap musim hujan kota ini selalu disibukkan oleh aktifitas penanganan banjir. Entahlah, sistem drainase yang kurang baik ataukah memang lahan resapan air yang telah sangat berkurang berubah menjadi aneka bangunan. Atau, hasil kolaborasi diantara keduanya.

Tetapi disisi lain, datangnya musim hujan membawa berkah tersendiri bagi penjual mantel yang berdagang dipinggir-pinggir jalan Surabaya ini.
Seperti terekam dalam foto yang saya ambil sore tadi (5 Nov. 2011) di seberang Bonbin. Tampak seorang pedagang dikerubuti calon pembeli.
Sore ini, yang bertepatan dengan takbir menyambut hari raya Idul Adha, Surabaya seharian hanya mendung saja. Tidak hujan. Tetapi seperti kata pepatah, tentu lebih baik kita sedia mantel sebelum hujan. Dan bila penjual es keliling lebih senang cuaca selalu panas, tentu tidak demikian dengan para penjual jas hujan tersebut. Ataukah mereka kalau tidak musim hujan adalah penjual es keliling?

C e l u r i t


KANG, boleh aku minta waktu sampeyan sebentar saja,” pinta mas Bendo.

Walah, ketempelan setan darimana kamu kok menjadi sedemikian sopan kepadaku?” sembur kang Karib.

“Aku akan membaca puisi, kang,” mas Bendo menjelaskan.

“Puisi?” tanya itu dilempar kang Karib disertai tawa berderai.

“Orang mau baca puisi kok diketawai, sampeyan ini piye to, kang?”

Mak cep. Kang Karib berhenti tertawa. Ia melihat ada kesungguhan disorot mata mas Bendo. Ia menjadi tidak tega mnelantarkan sebentuk kejujuran yang dijulurkan raut wajah sahabatnya ini.

“Maaf, nDo,” kata kang Karib kemudian. “Kamu akan baca puisi tentang apa?”

Masih dengan raut wajah dan sorot mata yang sama, mas Bendo menjawab, “Celurit.”

“Celurit?!”

Mas Bendo mengangguk. “Ini tentang benda tajam, kang. Jangan main-main tentang celurit. Bisa kualat.”

Wih, edan tenan. Sore yang redup oleh mendung, mendadak bergairah oleh ucapan mas Bendo barusan. Celurit bisa bikin kualat?

“Itu, si Bripto Eko Ristanto buktinya. Ia terlalu berani main-main dengan celurit. Akibatnya, ia malah dijerat pasal 338 KUHP.”

Wih. Ketempelan roh halus darimana ini, kok si Bendo ngomong pakai bawa-bawa pasal KUHP segala, batin kang Karib.

“Kita haruis berani berteriak, kang,” sambung mas Bendo kemudian. “Kita harus berani berteriak akan segala yang tidak benar. Ini demi HAM. Ini demi keadilan dan kemanusiaan.”

Sampai kalimat itu, kang Karib paham. Mas Bendo sedang mengoceh tentang kematian ustad Solikin, guru ngaji asal desa Sepande, Candi, Sidoarjo. Yang mula-mula terlibat laka-lantas; menyerempet Briptu Widianto pada Jumat dini ahri lalu (28 Oktober 2011). Karena kalut, sang ustad malah tidak berhenti. Dan dikejar oleh teman-teman Briptu Widianto. Mereka adalah Briptu Eko, Aiptu Agus, Bripka Dominggus, Briptu Iwan, dan Briptu Siswanto.

Dalam pengejaran itu terjadilah penembakan itu. Selain melakukan tembakan peringatan keatas dan ke arah mobil ustad Solikin, juga si Briptu Eko mengarahkan pistolnya ke arah tubuh sang ustad. Akibatnya fatal. Si ustad meninggal.

“Coba, gak ada yang teriak-teriak, dan keterangan Briptu Eko bahwa ustad Solikin melawan pakai celurit ditelan mentah-mentah, pasti kasus ini tenggelam ditelan bumi kan, kang?”

“Jaman sudah beda ya, nDo.” sahut kang Karib.

“Betul, kang. Beda dengan jaman ketika kasus si Udin. Wartawan yang dibunuh di Bantul beberapa tahun lalu,” jawab mas Bendo.

“Tentang celurit yang bikin kualat itu bagaimana?” kang Karib mengingatkan.

Lha itu. Mana ada ustad pergi antar-jemput buruh pabrik bawa senjata tajam begitu. Padahal si Solikin itu, selain ustad, merangkap jabatan hanya sebagi penjual tempe. Walau pertamanya, pihak Polres Sidoarjo mengatakan Solikin melawan pakai celurit, belakangan terbukti itu hanya akal-akalan si Briptu Eko saja. Dan, celurit itu terbukti malah punya Briptu Eko sendiri.”

“Letak kualatnya dimana, nDo?”

“Kalau pertamanya ia hanya dijerat pakai pasal 339 tentang kelalaian yang mengakibatkan meninggalnya ustad Solikin, gara-gara kebohongannya terungkap, ia kecemplung ke pasal 338 tentang pembunuhan. Bukankah itu kualat, kang?”

“Kita tunggu saja proses hukum selanjutnya, nDo.”

“Tidak hanya menunggu, kang. Kita harus pelototi. Harus digelar transparan dan seadil-adilnya.” masih dengan menggebu mas Bendo menimpali.

“Iya, begitu maksudku. Tetapi, ngomong terus, kapan kamu baca puisinya?”

“Iya. Sampai lupa,” mas Bendo nyengir. Lalu berdehem-dehem melemaskan tenggorokannya.

'Serius amat. Memangnya kamu mau baca puisinya siapa?” tanya kang Karib.

“D. Zamawi Imron.”

Oh, itu penyair yang berjuluk si Celurit Emas. Kang Karib menduga, mas Bendo akan membaca puisi berjudul sama; Celurit Emas. Tetapi,

Meditasi Celurit, karya D. Zamawi Imron...” suara mas Bendo merobek selembar sore yang dingin.

Kang Karib diam ketika mas Bendo mulai khusuk membaca puisi. Kang Karib keliru, ternyata mas Bendo tidak membaca Celurit Emas, tetapi Meditasi Celurit.



Memang pahit, guru. Rasa pohonan itu
Buah benih-benih yang dulu kutanam sambil berlayar
Pada ubun-ubun gelombang

Lewat isyarat senja
yang bercermin pada telaga
Kubur hanya tempat
Bukan kiblat

Guru!
Gigir celurit harus kupanjat
Agar kucicipi puncak pahitmu

*****