Sabtu, 18 Maret 2017

Ngenet di Masjid Dilarang?

SEMAKIN kesini, semakin banyak saja orang yang tak bisa lepas dari gadget alias gawai. Benda mungil yang nyaman digenggam itu memang semakin pintar saja. Tetapi, tentu saja, kepintaran si penggenggam juga dibutuhkan agar ia tak 'kesurupan' teknologi dan informasi.

Di kampung saya banyak sekali bermunculan warkop dengan jualan utamanya bukan lagi secangkir kopi, tetapi Wifi.

Saat saya kecil, almarhumah nenek saya semasa hidupnya adalah pemilik warung yang dagangannya selain kopi, nasi pecel dan dawet dengan pelanggan utama adalah buruh tani. Ada tukang tebang tebu, ada tukang angon kerbau dan sebangsanya. Saya perhatikan, sambil menunggu pesanannya terhidang, para pelanggan itu selalu bertegur sapa dengan akrab. Ada interaksi terjadi. Omongan ngalor-ngidul tentang hal remeh-temeh. Karena, bukankah percakapan memang tak selalu harus tentang hal-hal serius.

Kini, di warung kopi, membeli mie rebus atau segelas es teh plus sepotong gorengan adalah sasaran antara semata. Karena tujuan utama, bisa jadi, adalah menikmati jaringan internet untuk keperluan daring; nyosmed. Lalu masing-masing asyik sendiri, tak peduli kawan di sampingnya --yang juga bertingkah serupa. Kini, ngenet tidak melulu di warnet, tapi juga di warkop. Juga di masjid.

Oh, jangankan memasang wifi gratis, menara masjid di kampung saya ini disewa operator selular untuk difungsikan sebagai BTS saja oleh kiai sepuh dilarang (padahal oleh takmir telah disetujui) sehingga pemasukan kas masjid tak jadi menggemuk oleh pendapatan biaya sewa. Alasannya? Kiai sepuh itu memandang internet lebih banyak mudlaratnya ketimbang manfaatnya bila di tangan anak-anak muda yang kalah pinter dibanding gawainya.

Tetapi siapa bisa membendung laju orang ngenet. Secara iseng saya sering memperhatikan ada saja jamaah sholat Jumat di masjid yang memang telah mematuhi himbauan yang selalu disampaikan agar mematikan ring tone ponsel saat di masjid. Tetapi ngenet kan memang tak selalu butuh suara. Jadi, sepanjang khotib berkhutbah, sepanjang waktu itu pula bisa asyik online. Saya setuju bila hal ini dilarang dengan memakai nasihat bang Haji. 

Bila ada yang bertanya, "♪♫ kenapa yang asyik-asyik itu yang dilarang...♫♪?"
Jawab saja, juga dengan bernyanyi, "Ah ah ah ah ah ahh.. itulah perangkap syetan, umpannya ialah bermacam-macam kesenangan....♪♫

Teknologi informasi dengan aneka sosmed sebagai keturunannya –diakui atau tidak-- membuka peluang untuk mendekatkan yang jauh, tetapi juga acap malah menjauhkan yang dekat. Dan, jangan-jangan, keasyikan online nyosmed itu tanpa sadar kita telah menjauhkan diri dari berakrab-akrab ria dengan ayah-ibu, adik, kakak, tetapi juga dari yang maha dekat.*****

Selasa, 28 Februari 2017

Jangan Ambil Uang Sembarangan

SYAHDAN, saat kecil dulu istri saya pernah sakit parah. Sudah dibawa berobat kemana-mana belum sembuh juga. Kemudian, seperti lazimnya orang di kampungnya, dicarikan alternatif lain; ke 'orang pintar'. Dari si orang yang dipercaya punya kemampuan 'linuwih' itu, didapatlah titik terang. Bahwa, penyakit yang sedang diidapnya bukan typus atau malaria, tetapi gara-gara menemukan sejumlah uang di jalalan dan dibelikan jajanan lalu dimakannya. Intinya, uang orang yang jatuh di jalanan tidak boleh diambil sembarangan. Karena bisa jadi ada bala yang menyertainya.

Maka sejak itu, ibunya istri saya melarang mengambil uang entah milik siapa yang jatuh di jalan. Seperti tongkat estafet, wanti-wanti itu juga diteruskan oleh istri saya ke anak-anak.

Saat SD (MI) dulu, saat berangkat sekolah, anak sulung saya menemukan sejumlah uang di jalan, di dekat kuburan. Ingat petuah ibunya, uang itu tidak diambil dan cuma 'diamankan' dengan ditimbun kerikil di pinggir jalan, tak jauh dari uang itu ditemukan. Sepulang sekolah, anak saya menceritakan dengan bangga karena telah menuruti nasihat ibunya, sebuah pendapat yang saya sendiri kurang sependapat. Alasannya, menurut saya, karena tidak tahu uang itu mesti dikembalikan kepada siapa, bukankah lebih bermakna bila ia dimasukkan ke kotak amal di masjid saja?

Belum lama ini, di suatu pagi yang gerimis, saat berangkat kerja dengan buru-buru (karena berangkat agak kesiangan) saya melihat ada uang supuluh ribu di jalan. Kontan saya menghentikan motor dan mengamankan uang itu sementara waktu, untuk sore sepulang kerja akan saya masukkan ke kotak amal di musholla terdekat dari uang itu saya temukan.

Sorenya, dengan mantap saya merogoh 'saku depan' motor Vario, tempat uang yang saya temukan pagi tadi saya simpan di bawah lipatan Kanebo. Tujuannya, akan saya masukkan ke kotak amal musholla. Dan, wah, uangnya kok basah. Iya sih memang lap motor saya juga kondisinya agak 'mamel', tetapi bukankah uang kertas akan tidak sebegini keadaannya kalau kena air. Saya lebih perhatikan lagi, tertulis dengan huruf kapital di uang itu nilai nominalnya: SEPULUH RIBU SAJA. Oh, bukan rupiah ternyata.

Saya baru sependapat dengan istri kali ini, bahwa jangan sembarangan mengambil uang yang jatuh di jalanan. Terlebih bila uang itu hanyalah uang-uangan. *****

Kamis, 12 Januari 2017

Ajal Siaran TV Digital Terrestrial?

 
'Mendiang' penampakan sinyal Viva grup.
IYA, saya akan menulis tentang televisi lagi. Tetapi, kali ini, bukan tentang Ninmedia yang sejauh ini, walau telah ada FashionTV, NHK Word, Al Jazeera, Zing, DW (sekalipun yang saya sebut itu masih nongol sebagai test signal) ketahuilah, MNC grup masih belum ada. Bukan pula tentang si pendatang baru dari MMP atau SMV, yang walau sama-sama gratisan, tetapi ada perbedaan mendasar dengan Ninmedia. Yakni, bila kita bisa menyaksikan siaran dari Ninmedia (Chinasat-11/98*E) dengan hanya memakai perangkat yang dijual bebas di pasaran, tetapi untuk bisa menyaksikan konten dari SMV/MMP, perangkatnya kita harus kita beli dari mereka. Kabarnya, akhir Januari ini, setelah sekian waktu melakukan siaran percobaan, SMV akan resmi mengudara dengan platform yang disebut FTV, Free to View. Bukan FTA, Free to Air, seperti yang diterapkan oleh Ninmedia. Iya, kali ini, saya kembali menulis tentang siaran tv digital terrestrial. Nah, bagaimana kabar siaran televisi digital terrestrial di tempat Anda?

Seperti yang sempat diberitakan dan menjadi perhatian bagi sebagian pemirsa yang menunggu realisasi migrasi siaran televisi dari analog ke digital, era dimana gambar televisi yang diterima pesawat televisi kita tidak lagi bersemut walau antena sudah dipasang tinggi-tinggi sekali. Kerinduan itu bukan tanpa sebab, karena bukankah telah pernah tersiar kabar pemerintah akan melakukan switch off siaran televisi analog yang konon rakus memakan bandwitdh dan segera melakukan upgrade sistem penyiaran ke teknologi digital.

Laiknya langkah si renta, progress penerapan sistem yang di negara maju adalah sebuah kelaziman dan keniscayaan ini disini ternyata sangat tertatih sekali. Ada saja ganjalannya, ada saja kendalanya. Baik teknis, maupun (yang lebih dominan, sepertinya) adalah hal non teknis.

Untuk hal teknis, sejak 15 Juni sam 15 Desember 2016 kemarin (dan bisa diperpanjang masa trial ini), pemerintah dan beberapa lembaga penyiaran yang concern mendukung program ini, melakukan ujicoba non kemersial di beberapa kota Indonesia dengan TVRI sebagai penyedia insfrastruskturnya. Intinya, konten milik beberapa lembaga penyiaran itu dipancarkan menggunakan MUX milik TVRI. Maaf, saya tak hafal di kota mana televisi apa saja yang mengudara melalui uji coba ini. Tetapi, di Surabaya ini, tadi malam saya sempatkan untuk mengintipkannya untuk Anda.

Kalau MUX MNC grup (ch. 41/643 MHz) sudah sekian lama tiada itu saya sudah duga, tetapi kok ketika saya cari MUX MetroTV (ch. 25/506 MHz) juga sudah tidak lagi mengudara itu yang saya baru tahu. Termasuk MUX TransCorp (ch. 27/522 MHz) yang ternyata ikutan menghilang, menyusul MUX Viva grup (ch. 23/490 MHz), dan Emtek yang sedari dulu turun dari udara setelah sebentar sempat on air.

Kini (saat saya lakukan scan), praktis tinggal konten TVRI yang masih bisa dinikmati. Yakni, TVRI1 Jatim, TVRI2 Jatim, TVRI3, TVRI4 plus peserta ujicoba non kemersial yang 'digendongnya'; CNN Indonesia, NusantaraTV dan Inspira.

Sepertinya, program migrasi ini makin lemah saja gaungnya. Dan detak yang makin melemah, kita tahu, adalah pertanda ajal telah tak terlalu jauh jaraknya. Kalau demikian kenyataannya, pemirsa televisi di negeri ini mesti entah sampai kapan lebih bersabar lagi untuk menunggu menikmati siaran televisi dengan konten beragam dan gambar yang cling bebas bintik. Produsen televisi yang telah melangkah begitu maju dengan menghadirkan produk kualitas bagus yang bisa memanjakan mata pemirrsa, menjadi kurang berguna ketika siaran yang tertangkap masih analog dan cuma segitu mutunya.

Tetapi, untungnya, selalu ada pilihan dalam hidup. Tak perlu menyebut, untuk bisa menikmati siaran berkualitas digital tetapi tetap tak berbayar, kalau mau, ada kok pilihannya. Mau? *****


Senin, 09 Januari 2017

Memahat Sebongkah Batu

LELAKI itu adalah pemahat yang ahli. Batu apapun, bila ditanganinya akan menjadi patung yang indah. Kemasyhurannya menyebar ke seantero negeri. Dan, ketika ada yang bertanya, apa rahasianya sehingga selalu mampu membuat patung yang apik, dengan datar ia mengatakan, "Sebetulnya patung-patung indah itu telah ada pada bongkahan batu. Saya hanya membuang bagian-bagian yang tak perlu saja, yang membuatnya belum kelihatan bentuk aslinya".

Itu kalimat yang bisa jadi telah Anda temukan entah di bacaan mana, tetapi saya juga menemukannya pada salah satu dialog pada film Rambo II, dengan Sylvester Stallone sebagai sang jagoannya.

Saya membayangkan kita, atau saya secara lebih sempit, sedang menjadi sang pemahat. Dan karena kesibukan lain yang tidak bisa ditinggal, untuk memahat sebongkah batu milik saya itu, saya serahkan kepada pemahat lain, yang saya nilai lebih expert ketimbang saya. Tujuannya jelas, hasil pahatannya harus bagus, sebagus keinginan saya. Dengan menyerahkannya secara bongkokan, inginnya saya tahu beres saja, walau untuk itu tentu tentu harus ada biaya yang saya tanggung.

Tetapi, di negeri ini, apakah semua pemahat bagus? Yang selalu memperlakukan pahatannya dengan lemah lembut, dan hanya menyingkirkan bagian-bagian yang tak perlu saja. Bukan saking semangatnya malah sebagian besar pemahat itu memberlakukan si batu sedemikian rupa, dari pagi sampai sore sekali. Walau sistem yang nyaris full day itu belum menampakkan hasil pahatan yang berkualitas tinggi.

Si bungsu saya masih duduk di bangku TK, dan sejak seminggu lalu harus melalui waktu yang lebih panjang di bangku sekolah, dari pagi sampai jamg duabelas siang. TK sama dengan sekolah, apakah memang demikian? Ataukah TK adalah hanya taman kanak-kanak, dimana hanya tempat 'bermain' bagi kanak-kanak? Yang tidak menjejali si kanak-kanak dengan jam belajar yang panjang, yang membebani mereka PR bertumbuk saban harinya, yang harus membuat mereka pandai calistung?

Saya bukah ahli pendidikan, dan hanya mendengar konon sistem pendidikan kita masih kalah tertinggal. Masih konon lagi, negara Finlandia, yang sistem pendidikanya terbilang bagus di kelas dunia, jam pelajarannya tak sebanyak kita. Saya membayangkan, siswa di sana punya banyak waktu untuk dirinya sendiri. Jam sekolah pendek, dan gurunya tak kemalan kasih PR saban hari. Satu lagi, sepertinya disana tidak ada TPA kayak disini.

"Ooii..., kita, kalau begitu, lebih unggul, Cung! Disini kita tidak menjejali sedari dini otak anak-anak dengan Iptek semata, tetapi juga Imtaq".

Tentu saya tak hendak menyangkal pendapat diatas. Yang saya khawatirkan adalah, dengan sistem yang menganut pakem 'ganti menteri ganti kebijakan' ini, jangan-jangan 'sang pemahat' malah bukan hanya membuang bagian tak penting dari sebongkah batu demi mendapati hasil yang indah, namun bagian-bagian yang penting yang sebenarnya terbilang pelengkap keindahannya pun, ikutan terbuang pula. *****


Rabu, 21 Desember 2016

Resolusi dan Bumi Datar

 
MASIH bisa saya buka ingatan tentang tahun lalu atau lebih lama dari itu; pada sore yang gerimis, sepulang kerja, di kiri-kanan jalan beberapa orang mulai ada sebagai -mungkin salah satu- penanda akan datangnya tahun baru. Ya, pedagang terompet, yang entah berasal dari mana dan selain menjelang tahun baru berdagang apa, tak sedikit yang bersama anak-istri, berteduh menangkis runcingnya gerimis hanya dengan selembar plastik tipis.

Betapa langkah waktu sekalipun kurang terasa tetapi mungkin memang makin tergesa. Sampai setahun hanya pendek saja. Tahu-tahu menua. Tahu-tahu menuai. Tetapi menuai apa? Juga, bagaimana kabar resolusi yang ditiup akhir tahun kemarin?

Beruntunglah diantara kita adalah makhluk pelupa. Jangankan resolusi yang kencang sekali diucap dalam hati atau ditulis dalam diary dan tiada menjadi apa-apa (karena memang tanpa ada langkah nyata) yang dikumandangkan tiap akhir tahun, dan tahu-tahu kini sudah akhir tahun lagi. Ah, tak usah sungkan; mari kita tiup resolusi lagi. Dan, bukankah kita belum pernah mendengar fatwa bahwa berresolusi di setiap akhir tahun itu adalah tindakan yang haram?.

Jangankan berentang jarak setahun yang 365 hari, yang baru kemarin pun kita bisa dengan gampang melupakannya. Tentang Jessica, tentang Dimas Kanjeng, tentang Hillary vs Trump, tentang garuda melawan gajah di final AFF, oh itu cerita lama. Selama dan sebiasa timnas sepak bola kita gagal meraih juara. Jadi kenapa mesti meratap-ratap sampai gulung koming? Walau sudah biasa kalah, tentu semua kita tadinya sangat berharap menang dengan adagium yang secara aklamasi disepakati bahwa bola itu bundar, bukan datar seperti keyakinan beberapa orang tentang bentuk bumi.

"Jangan jadi member kalau cuma untuk mendebat", komentar itu saya baca di grup Kumunitas Bumi Datar di sosmed, entah itu dari sesama member atau dari sang admin, saya kurang tahu. Dengan kata lain, masuk ke grup ya harus sudah sepaham, agar tak gagal paham.

Karena sadar saya beda paham, saya tahu diri untuk tidak mendaftar jadi member di grup yang saat saya intip beranggota ribuan itu. Selain buang waktu, itu akan buang kuota internet saja. Tentu saja, sebagai yang beda paham, saya akan bisa dengan enteng nyinyir dan bilang pendapat bumi datar itu didengungkan bukan oleh pakar, tetapi oleh penulis buku yang sadar akan selera pasar. Bahwa, hal nyeleneh akan laku dijual, dan akan bisa ditelan begitu saja bukan saja oleh awam, tetapi oleh orang berpendidikan sekalipun. Semoga kita masih belum lupa oleh seorang perempuan bernama Marwah Daud dalam membela secara keukeuh sang Taat Pribadi.

Apalagi grup di sosmed. Tak perlu menjadi ahli di satu bidang untuk membuat grup yang laku diserbu ribuan member. Dengan iseng saja, tanpa dasar ilmu satelit yang mumpuni, saat saya buat grup satelit di facebook, eh tahu-tahu sekarang anggotanya sudah belasan ribu. Dengan sambil leyeh-leyeh, saya biarkan para anggota berdiskusi saling adu ide dan argumentasi. Sesekali, kalau ada member yang posting sesuatu yang out of the topic dan kurang saya sukai, gampang; tinggal di-kick saja. Dengan kata lain, kalau seandainya suatu hari nanti saya bikin grup yang mengangkat topik gula itu pahit, bisa jadi ada saja orang yang akan memasukinya. *****


Jumat, 02 Desember 2016

Bonek Melawan

 
"PUNYA tali rafia, Kang?" Mas Bendo mertamu sambil membawa kain putih yang sudah ia tulisi dengan cat hitam.


"Untuk apa?"

"Untuk pasang ini di pinggir jalan," dengan bangga Mas Bendo membentang kain putih itu di hadapan Kang Karib. Kain putih dengan kalimat yang sering Kang Karib baca belakangan ini di sekujur tubuh Surabaya. Yang berisi kecaman tertuju kepada PSSI (sering ditulis sebagai P$$I) dengan bumbu umpatan khas Surabaya.

"Kamu itu", ujar Kang Karib, "sudah jalanan dibikin rapi dan ditata serta dijaga kebersihannya kok malah semua jadi gak nyaman dipandang gara-gara spanduk dipasang pating crentel dan penuh pisuhan".

"Ini perjuangan, Kang", sergah Mas Bendo. "Jangan dipandang sebagai mengotori keindahan dan sejenisnya. Saya ini, sebagai Bonek, sedang melawan."

"Tetapi melawan kan bisa dilakukan secara elegan, nDo."
Salah satu spanduk kreasi bonek.
Sumber foto: emosijiwaku.com

"Di saat PSSI melakukan tindakan sedemikian jahat kepada Persebaya, mosok kita melawannya dengan lembek. Bisa-bisa kita malah diremehkan dan tidak direken sama sekali. Sekali lagi, saya ini bonek, Kang, dan ada darah Surabaya di tubuh saya. Darah Surabaya adalah darah pejuang, darah pahlawan. Dan ingat, bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawan", oceh Mas Bendo melebar tak karuan.

"Pahlawan? Bukankah pahlawan adalah bertujuan luhur demi kemerdekaan, misalnya, dan untuk itu rela berkorban jiwa raga?"

"Saya, sebagai bonek sejati juga rela mati, Kang. Rela berjuang sampai titik darah penghabisan demi Persebaya..."

"Sungguh, nih? Sungguh rela mati cuma demi bal-balan? Mbokya jangan segitulah, nDo. Santai saja. Lagian apa sih yang kamu dapat dari membela tim kesayanganmu itu?"

"Kebanggaan, Kang. Dan itu tidak dapat dihitung nilainya", dalih Mas Bendo. "Sudah, Sampeyan ini punya tali rafia apa tidak sih?"

Setelah menerima tali rafia pemberian Kang Karib, Mas Bendo pergi menuju perempatan dimana ia akan memasang spanduk berbahan kain mori murahan itu disana.

Dua hal yang membuat Kang Karib prihatin adalah, ulah para (oknum) suporter sepakbola yang acap menerapkan fanatisme secara kebablasan, dan menempatkan pendukung tim lain sebagai musuh abadi dengan tingkat kebencian yang sampai merasuk ke sumsum tulang, dan atau ngepruki kaca mobil yang dijumpai di jalanan dengan tanpa alasan. Kedua: pihak Satpol PP yang sering terlihat mencopoti spanduk yang telah habis masa ijinnya, (dan apalagi spanduk liar tak berijin yang dipasang di sudut-sudut jalan) kali ini terlihat seperti sedang melakukan pembiaran terhadap para bonek yang makin hari makin banyak saja memasang spanduk penuh pisuhan di jalanan. *****



Senin, 28 November 2016

Minyak dan Api

JANGANLAH engkau menjelma menjadi api ketika orang lain menyuguhimu minyak
Cak Nun.

Selasa, 22 November 2016

Jenang Sapar

SEMAYI adalah nama sejenis botok tetapi tiada udang, tempe atau jamur dan bahan lainnya sebagai isi. Ia hanya botok dengan bahan utama kelapa diparut yang tampil secara solo. Iya sih ada bumbunya, dan bumbu itu sebagaimana layaknya bumbu botok. Seingat lidah saya, rasa utama ketika dimakan adalah pedas. Parutan kelapa nyaris sudah tiada rasa kelapanya, sepo. Karena ia adalah parutan kelapa yang telah tiada santannya. Santan telah diperas untuk dipakai memasak lodeh gori, nangka muda.

Nasi aking (karak) yang dikrawu berteman semayi adalah menu yang tidak jarang mengisi perut saat saya kecil. Nikmat sekali. Dulu kami makan begitu karena keadaan, kini saya kembali ingin menikmatinya lagi karena kerinduan.

Tetapi, di kota ini, dimanakah saya bisa membeli semayi dan nasi aking dikrawu? Tentu tidak ada, selain membuatnya sendiri. Tentu saya bisa meminta dibuatkan menu itu kepada emaknya anak-anak, namun sebagaimana menu lainnya, hidangan apa pun adalah bukan tandingan bila dibanding masakan ibu. Lebih-lebih bila makanan itu didapat dari membeli. Kenapa? Karena makanan yang dibeli dari restoran atau warung makan unsur utama ketika dimasak adalah berdasar hitungan uang, sementara masakan ibu untuk keluarganya dimasak selalu dengan bumbu utama bernama kasih sayang.

Sekarang bulan Syafar, sebagai lidah yang kolokan, kok ya sempat-sempatnya ia merindukan jenang sapar, begitu kami menyebutnya. Berbeda dengan jenang Suro yang berbahan beras putih, penganan ini berbahan tepung ketan yang hanya ada di bulan Syafar. Adonan tepung ketan itu dibentuk bulatan-bulatan kecil (makanya juga disebut jenang grendul) dipadu gula merah dan santan. Hmm, aroma pandannya menggoda, semenggoda sensasi nyeplus bulatan ketan yang kenyil-kenyil, kenyal. Saat dikunyah rasanya nano-nano; ada manis, ada asin, ada gurih, ada-adaaa aja.... (Hmm, mak cleguk..)

Nah, demi menuruti kerinduan lidah, saya mencari si jenang sapar itu ke pasar. Tidak seperti di awal Syawal yang banyak sekali penjual ketupat, di bulan Syafar tidak saya temukan seorang pun penjual jenang sapar. Padahal kalau di kampung saat masa kecil dulu, di bulan Syafar begini, antar tetangga saling antar jenang sapar. Makanya kita bisa makan penganan itu gratis tanpa bayar. Pagi kemarin itu saya meninggalkan pasar dengan tanpa berhasil membuat kerinduan sang lidah terbayar

Namun, dasar rejeki anak bapak sholeh, saat datang ke tempat kerja, ada seorang teman yang baru pulang kampung membawa sebungkus agak besar jenang sapar. Lumayanlah, walau hanya memakan satu-dua sendok (demi agar jenang segitu bisa dimakan semua teman), paling tidak kerinduan lidah saya sudah relatif terobati. *****

Sabtu, 19 November 2016

Perempuan Penjajah

WANITA dijajah pria sejak dulu.....

Penggalan syair lagu lawas itu mungkin agak kurang dikenal oleh generasi sekarang. Tetapi, 'penjajahan' macam itu masih saja terjadi sampai kini. Walau, atas nama HAM, si penjajah (baca: pria, menurut lagu itu) harus lebih berhati-hati. Harus lebih halus, sehingga si terjajah nyaris tidak menyadari kalau dirinya sedang dijajah.

Isu kesetaraan gender dan sebangsanya memang membawa hasil. Jumlah perempuan dalam parlemen dan aneka bidang lainnya cenderung lebih ada dibanding pada masa lalu. Perempuan, setidaknya bukan sekadar sebagai kanca wingking, teman di belakang. Yang hanya berkutat di sumur, dapur dan kasur. Sebagai yang secara jumlah lebih besar dibanding pria, seyogyanya perempuan adalah 'sang penjajah', bukan sebaliknya. Atau memang sudah, sudah menjajah. Tetapi secara halus, sehingga seperti saya tulis di atas, si terjajah (kali ini pria) nyaris tiada merasa kalau sedang dijajah?

Di sebuah pusat kebugaran di Surabaya, saya dapati ada sudut yang mengkhususkan diri sebagai tempat berlatih tinju. Tidak melulu tinju seperti yang dilakukan oleh Tyson atau Pacman, namun dipadu juga dengan Thai Boxing. Pokoknya tidak sekadar jotosan, nyaduk pakai dengkul dan atau cara nyikut yang 'mematikan' pun dilatihkan. Dan, setiap kali saya kesitu, selalu saya temui sebagian besar yang berlatih adalah perempuan!

Tentu perempuan yang berlatih di situ bukan oma-oma. Para perempuan itu masih kinyis-kinyis dan --dugaan saya-- masih bujangan. Saya belum sempat bertanya apa yang mendorong mereka berlatih jotosan dan nyaduk 'secara baik dan benar', tetapi itu saya baca sebagai sinyal bahwa mereka ingin mematahkan sebagian pendapat yang secara tradisional mengatakan wanita adalah lemah. Itu pertama. Kedua, dengan tidak sedikit kasus kejahatan jalanan yang mengincar perempuan sebagai korban, berlatih bela diri adalah hal yang masuk akal dilakukan. Dan ketiga, bisa jadi, KDRT yang sering menempatkan perempuan sebagai korban, kelak bila para perempuan itu menikah, bila sedang bertengkar dan kurang bisa mengontrol diri, si suami yang akan dijadikannya sansak.

Terpilihnya Donald Trump sebagai presiden AS, ditakutkan orang (bahkan warga AS sendiri) akan membuat dunia kacau berantakan. Sebuah ketakutan yang berlebihan, lebih-lebih bila jangan-jangan tokoh menakutkan itu ternyata malah menjadi penakut di hadapan perempuan bernama Melania.

Akhir syair lagu yang saya pakai sebagai pembuka tulisan ini adalah para pria berlulut di sudut kerling wanita, di hadapan perempuan yang piawai bertinju akan menjadi lebih tragis nasibnya karena berlutut bukan sekadar oleh kerling, namun oleh jap, hook atau upper cut. *****

Rabu, 16 November 2016

Pengemis Pemalu

SORE yang mendung. Saya ada di deret lumayan belakang pada antrean agak panjang di SPBU Mayjen Sungkono ke arah Adityawarman. Sambil menunggu giliran, mata saya tertuju pada sesosok ibu berkain panjang, berkebaya dan berkerudung yang duduk di dekat pengisian angin/nitrogen dekat pintu keluar SPBU. Semula saya duga ia adalah ibu dari seseorang yang juga sedang antre mengisi BBM. Sebuah dugaan yang sejauh ini keliru. Karena, hingga saya mendekati giliran, tak seorang pengendara pun menghampirinya untuk melanjutkan perjalanan.

Selesai mengisi tanki kendaraan, saya dekati ibu itu yang di wajahnya terbaca sebagai perpaduan antara ragu dan malu.

“Menunggu siapa, Bu?” saya bertanya.

“Tidak menunggu siapa-siapa,” jawabnya.

“Lalu, kenapa Ibu disini?”

“Saya mengemis...”

Selembar uang sekian rupiah saya berikan, setelah sekian detik tertegun mendengar jawabannya, lalu melajukan kendaraan meninggalkan SPBU. Meninggalkan si Ibu, pengemis pemalu (karena pemula?) yang sepertinya melakukan itu karena terpaksa.

Sore kian turun dan, seperti bisa, beban pundak jalanan kota makin berat oleh volume kendaraan yang makin sarat. Lampu-lampu yang mulai menyala, menyalakan pula tanya tentang Ibu tua itu. Diantaranya;  kemana suami dan anak-anaknya? *****


Minggu, 02 Oktober 2016

Taat Pribadi, Sebuah Berita Selingan

FENOMENA Dimas Kanjeng Taat Pribadi dan pemberitaan tentangnya di berbagai media, paling tidak telah menjadi selingan. Bahwa, 'reality show' Kopi Sianida dengan bintang Jessica Komala Wongso di televisi, perseteruan Kiswinar vs Mario Teguh, ingar bingar Pilgub DKI, sampai Pilpres yang mempertarungkan Trump dan Hillary di AS telah terlalu medominasi isi berita. Perlu 'berita baru' yang segar dan agak jenaka. Dan, itu adalah tentang Taat Pribadi.

Lihatlah aksinya saat menggandakan (orang kepercayaannya ada yang menyebut 'mengadakan', bukan menggandakan) uang di laman Youtube. Berpeci hitam, duduk di kursi, sementara para pengikut yang tak berbaju sibuk menata uang yang dihamburkan oleh sang Taat setelah tangannya merogoh dari bagian belakang jubahnya. Sungguh hal yang merepotkan. Tidak praktis blas. Kalau Taat adalah pribadi yang simpel, tentu uang yang ia 'ambil' dari balik jubahnya itu tak dihamburkannya begitu. Toh, saat pertama, di tangannya uang itu telah rapi. Ya tinggal serahkan dalam kondisi rapi begitu ke para abdinya. Kok malah dihamburkan sehingga para abdi sampai buka baju (karena keringetan atau memang disyaratkan kudu begitu) untuk menatanya lagi.

Lhadalah, selain bisa mengadakan uang, kata berita, konon ia juga mampu mengadakan barang lain. Motor, misalnya. Ini tentu pelanggaran kedua selain pengadaan uang itu. Bagaimana tidak, secara resmi, lembaga negeri ini yang punya hak untuk menerbitkan uang hanyalah Bank Indonedia ( Bukan Bang Taat :) ), dan yang berkepentingan untuk memproduksi motor adalah Agen Tunggal Pemegang Merek (ATPM). Lha kalau dia bisa lewat ritual tiba-tiba 'mengadakan' motor baru, pihak ATPM harus mengusut itu. Kan sudah merugikan. Kecuali kalau motor itu merek dan spare part-nya menggunakan nama Taat. Tapi katanya kan merek motornya Honda CBR.

Betul memang, masyarakat kita belum bisa lepas dari hal-hal klenik. Untuk percaya hal-hal demikian, tak hanya orang pelosok dan tak berpendidikan, orang berpendidikan tinggi pun bisa meyakini. Lihatlah tokoh ternama pengikut Dimas Kanjeng yang sampai kini tetap taat pada Taat. Bukan orang sembarangan kan?

Saya pernah dipameri seorang teman yang katanya bisa mengambil uang dari langit. Dengan ritual dan membaca mantera rahasia plus harus ada kembang kantil khusus, ia bisa mendapatkan berapapun jumlah uang yang diinginkan.

“Itu uang asli apa uang mainan?” canda saya.

“Asli, dan bisa dipakai berbelanja,” mantap sekali ia menjawab.

“Wah, kalau bisa ambil uang dari langit dengan jumlah berapa saja,” sela saya, “ngapain Sampeyan pontang-panting kerja begini? Kan uang tinggal ngambil, kalau habis, ngambil lagi...”

“Oh, begini,” nadanya serius sekali, “uang itu kita pinjam. Khusus untuk menolong orang lain, tidak boleh untuk pribadi. Misalnya Anda punya utang dan tak ada harta untuk membayar, itu bisa saya bantu. Saya pinjamkan uang dari langit. Tetapi, kalau sudah mampu, Anda harus mengembalikan.”

“Mengembalikan ke langit, bagaimana caranya?”

“Ya harus lewat saya lagi...”

Sumpah, cuplikan dialog di atas adalah benar adanya. Dan syukurlah, sampai sekarang saya benar-benar tak mempercayai kemampuan teman saya itu. *****

Minggu, 25 September 2016

Nama Kekinian Buah Hati

SEKELUAR dari tempat yang disekat dengan sehelai korden -ruang periksa yang ada dipan kecil tempat saya disuntik barusan, sambil mengusap-usap bokong saya ambil tempat di depan meja dokter. (Ohya iya, entah karena pelit atau apa, si dokter yang suka naik Vespa itu berpraktik sorangan wae, tanpa asisten. Jadilah ia yang memeriksa, ia yang menyuntik (ya iyalah, kan dia dokter), juga yang kasih obat dan merangkap sebagai kasir.) Karena tubuh saya masih demam dan kena angiin sedikit saja badan sudah serasa bermalam di puncak gunung, saya meminta dibuatkan surat keterangan dokter.

"Nama?", tanya dokter.

"Edi Winarno."

"Wartawan ya?"

"Bukan, Dok. Karyawan biasa."

"Tapi anggota PWI, kan? Persatuan Winarno Indonesia..."

Sontoloyo tenan. Suka bercanda juga si dokter ini.

Iya, kalau tidak salah, percakapan itu sudah pernah saya posting di blog ini. Tetapi ini tentang hal lain. Tentang orang harus bangga (paling tidak harus sreg) dengan namanya sendiri. Tetapi dewasa ini, terutama buah hati keluarga muda, sepertinya makin tidak kelihatan kesukuannya, atau bahkan keiindonesiaannya. Iya, seperti halnya nama Joko atau Hartono, sudah pasti dengan membaca nama belakang saya orang tidak akan mengira saya ini orang Batak. Lha sekarang, nama para balita kekinian yang dengan genit dinamai mama-papanya (yang punya 'anggota tubuh lain' bernama gadget, yang kemanapun serasa tak lengkap tanpa benda itu) dengan berderet nama yang berbahasa Persialah, Rusialah atau bahasa alien yang tentu saja bakalan sulit dieeja lidah kakek-neneknya.

Apa itu hal salah?
Oh, no. Tidak, saya tak punya secuil kuasa pun untuk menyalahkan siapapun yang menamai buah hatinya dengan bahasa apapun. Lha, memangnya saya ini apa dan siapa? Tetapi begini, mungkin lho ya (tolong dikoreksi kalau saya keliru); orang menamai anaknya dengan istilah atau bahasa yang rumit (walau konon kalau diterjemahkan ke bahasa kita artinya bagus) adalah agar ekskulsif. Padahal, di zaman gugel ini, apa sih yang tidak segera diketahui orang lain untuk kemudian ditirunya. Juga nama balita yang dengan susah payah Anda pakai itu. Maka, adalah hal lumrah manakala sekarang bayi-bayi mungil itu menyandang nama yang sama, paling tidak satu atau dua kata. Yang Salsabila-lah, yang Aurendra-lah, Azzahra-lah atau yang lainnya. Dan, tentu saja, Anda tak bisa menuntut orang tua bayi lain yang memakai nama yang juga Anda pakai untuk buah hati Anda. Kecuali, Anda mematenkan nama baby Anda.

Makanya saya biasa-biasa saja ada orang lain punya nama Edi (walau ejaan hurufnya bisa Edy, Eddy atau  Edhie, toh bunyi ketika dibaca sama). Yang sekarang perlu agak diluruskan adalah tentang Kiswinar. Silakan Anda berpendapat sendiri tentangnya. Mau pro dia atau pro Pak Mario silakan saja. Cuma yang saya pikir, kenapa ya kok penggalan namanya tanggung amat. Tidak ditambah NO sekalian. Biar menjadi Kiswinarno. Atau ditulis menjadi Kiss Winarno. Hmm..., keren kan? Supaya, seperti candaan Pak Dokter kepada saya itu, ia dijadikan anggota 'PWI'. Walau kami, sesama 'marga' Winarno ini, tak perlu melakukan tes DNA demi meyakinkan khalayak bahwa kami sama sekali tak ada pertalian darah.*****

NB: maaf lho ya; antara judul dan isi kurang sejalan. Disengaja kok


Selasa, 06 September 2016

Rabu, 10 Agustus 2016

Giliran Menggali Kubur

PENGERAS suara yang terpasang di menara masjid di kampung saya, secara rutin tentu saja mengumandangkan adzan di lima waktu sholat. Tetapi selain itu, adakalanya digunakan juga untuk memanggil anggota Ishari untuk berkumpul sebelum mengahadiri undangan ke suatu tempat. (Dalam hal ini saya sempat membatin, apa anggota kelompok hadrah itu tak memiliki ponsel ya kok sampai dipanggil dengan cara memanfaatkan TOA masjid?). Selain dua hal tersebut, speaker masjid secara waktu tak tentu (bisa pagi, malam, sore atau dini hari) juga dimanfaatkan untuk menyampaikan kabar duka bila ada warga yang meninggal dunia.

Tidak seperti kebiasaan di desa asal saya yang untuk mengebumikan orang meninggal harus menunggu waktu (menunggu berkumpulnya sanak famili yang kadang bertempat tinggal di tempat jauh, sehingga tak jarang mayat diinapkan walau meninggalnya masih sore hari), disini berjarak tiga jam dari pengumuman yang disebarluaskan dari pengeras suara masjid, semua prosesi pemakaman telah selesai. Tak peduli siang, tak peduli malam. Mungkin, tak peduli juga sanak famili belum semuanya datang.

Hari-hari ini, bila ada kabar duka cita berkumandang dari manara masjid, saya ikut menyimak juga; apakah yang meninggal itu masih satu RT dengan saya atau tidak. Pasalnya, di dinding teras rumah saya sejak dua minggu yang lalu tergantung tanda 'palang merah'. Itu pertanda, bersama enam tetangga lainnya, saya sedang dapat giliran menggali kubur bila ada salah satu warga di RT kami yang meninggal.

Ini akan menjadi pengalaman kedua sejak saya tinggal di kampung ini mulai tahun 2009 yang lalu.

Menggali kubur? Bukankah telah ada petugas khusus yang dibayar melalui iuran rutin warga? Mungkin itu kebiasaan di tempat lain, dan boleh jadi di tempat lain lagi ada yang dalam menggali kubur tak menunjuk petugas khusus dan semua prosesi dari A sampai Z dilakukan secara gotong royong. Begitulah; dimana langit dijunjung, disitu bumi dipijak.

Saya belum bertanya sejak kapan dan oleh siapa peraturan menggali kubur secara bergiliran itu di kampung ini diterapkan. Namun saya berbaik sangka saja. Kalau bertakziyah kepada orang yang meninggal mempunyai efek baik agar kita selalu ingat mati, apalagi dengan ikut menjadi penggali kubur (yang dalam proses penggalian tak jarang menemukan tulang-belulang). Tentu bobot ingat mati akan makin tinggi dan makin menyadari kelak siapapun kita di kuburan akan tersisa tulang-belulang. *****


Sabtu, 23 Juli 2016

PKL, PR Abadi Kota

BEBERAPA tahun yang lalu, di sepanjang jalan Jagir sisi sungai itu berjajar rapat sekali rumah semi permanen dengan aneka usaha. Mulai bengkel mobil, bengkel motor, warung makan, pandai besi, sampai tempat praktik dokter. Ohya, ada mushollanya juga. Padahal, secara hukum, mereka menempati tanah negara. Dalam arti kata, menempatinya secara ilegal, walau katanya sih tinggal dan membuka usaha disitu bukan gratis semata. Bahkan sudah bergonta-ganti 'pemilik' dengan nilai jual-beli yang tak terbilang murah. Itu pertama. Kedua, dengan PLN berkenan memberikan layanan listrik di area situ, membuat semua menjadi baik-baik saja dan seperti tidak melakukan pelanggaran apa-apa.

Dulu saya pernah ke salah satu rumah disitu untuk suatu keperluan dan ketika saya menengok ke belakang rumah, oh bahaya sekali; langsung menghadap bibir sungai. Kalau lagi apes dan terpeleset, untuk mencarinya bisa jadi perlu bantuan tim SAR.

PKL adalah sekelompok orang dengan keuletan berusaha yang gigih sekali. Dimana ada peluang, disana mereka akan berdagang. Sampai kurang peduli bahwa lahan yang mereka tempati adalah area terlarang. Di bibir sungai, di atas saluran, di depan pasar dan sebangsanya. Sebentar saja tak ditindak, jumlah mereka akan beranak-pinak. Sampai mampu mematikan usaha lain sejenis yang punya tempat permanen dan resmi. Bayangkan, PKL tak sungkan menjual sepatu di depan toko sepatu. Dengan kegigihan berkadar 24 karat, untuk menggusurnya pun tidak setiap pemimpin daerah mampu menuntaskannya.

Anda sudah pernah jalan-jalan ke Singapura? Atau ke Paris? Kalau sudah, berarti Anda telah bisa menyaksikan betapa bersihnya jalanan di sana. Kalau belum pernah, ah kita sama. Karena belum pernah ke luar negeri, tentu akan tak afdol kalau saya nggedabrus bercerita tentang tempat-tempat dimaksud. Baiklah, saya akan bercerita tentang di kota ini saja, Surabaya.

Lagu Bis Kota yang dinyanyikan Franky adalah potret Surabaya tahun bahuela. Yang masih panas. Sekarang, taman ada dimana-mana. Di sepanjang jalan di seantero kota, selalu ada rindang yang diciptakan. Pohon-pohon dan bunga-bunga juga air mancur di berbagai sudut kota, diniatkan agar kota ini menjadi tak panas-panas amat.

Seorang kawan dari kota sebelah sempat iri dengan pembangunan di kota ini. Pembuatan saluran/box culvert yang sepanjang tahun tak pernah berhenti demi bisa mengusir banjir, dan pembanguan infrastruktur penunjang lainnya. Walau kalau diamati, masih saja terjadi malfungsi ketika sarana itu jadi. Trotoar, misalnya. Area pejalan kaki yang dipasang keramik dengan motif apik yang di bangun di atas box culvert di kanan-kiri jalan, malah acap menjadi 'jalan lain' bagi penunggang motor yang tak sabar bermacet-macet ria.

Inilah salah satu problem abadi setiap kota di masa kini; seberapa pun jalan dilebarkan, selalu akan segera dipenuh-sesaki oleh kendaraan. Dan semua akan menjadi semakin ruwet tidak karuan bila sama-sama kurang mengedepankan kesadaran. Ya masyarakatnya, ya pemerintahnya, ya semuanya.

Pagi tadi saya berangkat kerja dan mendapati dua lokasi PKL telah diratakan dengan tanah dan, tentu saja, akan difungsikan disitu sesuai peruntukannya. Satu di jalan Dinoyo, satunya lagi di depan Gelora Pancasila jalan Indragiri. Kemana para PKL itu setelah ini mencari nafkah, tentu perlu (mungkin telah) dipikirkan oleh pihak penggusur. Itu secara moralnya memang demikian, walau mereka adalah pihak yang salah. Tetapi, para pedagang kaki lima bukanlah makhluk rapuh yang gampang punah. Tunggulah: disini merena digusur, sekian waktu berikutnya, di tempat lain, mereka akan tumbuh lagi. Ingat, sesuai namanya, mereka adalah pedagang kaki lima, bukan sekadar kaki tiga!*****